Terungkap! Pria Tewas di Teras Masjid Pangkep Diantar 10 Remaja dari Makassar Pakai Pete-pete
PANGKEP, iNewsCelebes.id - Polisi akhirnya mengungkap kendaraan yang digunakan untuk mengantar pria paruh baya yang ditemukan meninggal dunia di teras Masjid Raodah Tuljannah, Kampung Laikang, Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Selasa (6/1/2026) kemarin.
Kanit Tipidum Satreskrim Polres Pangkep, Ipda Dipo Alam, mengatakan kendaraan tersebut berupa mobil angkutan kota (angkot) atau pete-pete yang ditemukan di wilayah Kota Makassar, pada Rabu (7/1/2026) malam.
“Berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan dan petunjuk rekaman CCTV, kami berhasil mengidentifikasi dan mengamankan mobil Pete-pete yang digunakan korban sebelum meninggal dunia. Kendaraan itu ditemukan di wilayah Makassar, tepatnya di Kecamatan Tallo,” kata Dipo, Kamis (8/1/2026).
Identifikasi kendaraan itu berawal dari analisis rekaman kamera pengawas di sekitar masjid, yang memperlihatkan detik-detik korban diturunkan di lokasi kejadian.
Dari rekaman tersebut, polisi kemudian melacak mobil Pete-pete yang digunakan hingga akhirnya mengamankan sopir berinisial MY (20).
“Hasil interogasi, sopir mengakui bahwa benar kendaraan tersebut digunakan untuk mengangkut korban dari Makassar menuju Pangkep,” ujarnya.
Dipo menjelaskan, angkot atau Pete-pete tersebut disewa oleh warga dari Jalan Regge, Kelurahan Rappokalling, Makassar, dengan biaya Rp 200 ribu.
Para pengantar diketahui berjumlah sekitar 10 orang remaja yang berniat membantu korban pulang ke kampung halamannya.
Menurut keterangan saksi berinisial M (35), korban sehari-hari tinggal di depan rumahnya di Jalan Regge. Korban biasa tidur dan mandi di lokasi tersebut. Beberapa hari sebelum kejadian, korban mengaku sakit dan meminta diantar pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep.
“Korban mengaku punya keluarga di Segeri. Karena kasihan dan melihat kondisinya sakit, warga berniat membantu mengantarnya pulang,” kata Dipo.
Namun, dalam perjalanan menuju Pangkep, para pengantar mengaku tidak mengetahui secara pasti lokasi Segeri.
Penunjuk arah selama perjalanan adalah korban sendiri. Setibanya di wilayah Pangkep, rombongan sempat berhenti di daerah Bambu Runcing untuk bertanya arah.
“Karena alamatnya tidak jelas dan kondisi korban semakin lemah, korban kemudian meminta diturunkan di masjid saja. Peristiwa ini terekam CCTV,” ujar Dipo.
Setelah diturunkan, korban sempat meminta uang kepada pengantar sebesar Rp 100 ribu. Namun, warga hanya memberikan Rp 50 ribu.
Uang tersebut kemudian ditemukan polisi di lipatan baju korban saat olah tempat kejadian perkara.
Polisi menyebut korban diperkirakan berusia sekitar 60 tahun dan sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Panampu, Makassar.
Korban dikenal warga sekitar dengan nama panggilan Budi, yang diduga merujuk pada tato bertuliskan nama tersebut di tubuhnya.
“Namun hingga kini identitas resmi korban belum diketahui. Tidak ditemukan KTP atau dokumen identitas lain. Hasil pemeriksaan sidik jari juga tidak terdata, diduga korban belum pernah melakukan perekaman e-KTP,” kata Dipo.
Terkait penyebab kematian, polisi masih menunggu hasil resmi autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Meski demikian, berdasarkan keterangan awal dokter forensik, korban diduga meninggal dunia akibat sakit jantung.
“Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dugaan sementara penyebab kematian adalah penyakit jantung,” ujarnya.
Polres Pangkep saat ini mengupayakan proses pemakaman korban di wilayah Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, sambil terus melakukan penelusuran untuk menemukan pihak keluarga.
Sebelumnya, kasus ini sempat menjadi perhatian publik setelah beredar informasi mengenai tujuh orang tak dikenal (OTK) yang mengantar korban ke masjid. Hasil penyelidikan terbaru mengungkap bahwa korban diantar oleh sekitar 10 orang remaja yang berniat membantu korban pulang ke kampung halamannya.
Editor : Muhammad Nur