Penopang Saat Ekspor Lesu, Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi dan Jawa Lampaui Angka Nasional di Awal 2026
JAKARTA, iNewsCelebes.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencatatkan angka impresif sebesar 5,61% secara tahunan (YoY).
Menariknya, sejumlah wilayah tercatat mampu melaju lebih cepat dari rata-rata nasional, dengan Sulawesi dan Jawa menjadi motor utama pertumbuhan di awal tahun ini.
Berdasarkan analisis terbaru Permata Bank, pertumbuhan di Sulawesi mencapai 6,95% YoY, sementara Jawa berada di angka 5,79% YoY. Kedua wilayah ini menunjukkan ketahanan ekonomi yang solid di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Melajunya ekonomi di Sulawesi didorong kuat oleh sektor industri manufaktur yang terus berekspansi. Selain itu, normalisasi sektor pertambangan di wilayah sekitarnya, seperti Nusa Tenggara Barat yang tumbuh 7,93% YoY, turut memberikan dampak positif bagi rantai pasok di kawasan timur Indonesia.
Sementara itu, pertumbuhan di Pulau Jawa dipicu oleh akselerasi konsumsi domestik. Sebagai pusat populasi dan ekonomi, Jawa sangat diuntungkan oleh momentum Ramadan dan Idulfitri yang meningkatkan belanja rumah tangga secara signifikan pada Maret dan April 2026.
Secara nasional, kenaikan PDB sebesar 5,61% ini merupakan capaian tertinggi sejak kuartal III-2022. Selain konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52%, lonjakan belanja pemerintah sebesar 21,31% YoY juga menjadi faktor penentu.
Percepatan realisasi fiskal untuk program-program prioritas, termasuk bantuan sosial dan pembangunan infrastruktur bangunan, memberikan bantalan ekonomi yang kuat di awal tahun.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa permintaan domestik tetap menjadi motor utama penggerak ekonomi.
"Penguatan konsumsi didukung oleh meningkatnya aktivitas belanja masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri, serta membaiknya keyakinan konsumen pada Maret 2026," ujar Josua dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/5/2026).
Meski angka di Sulawesi dan Jawa terlihat cerah, para analis mengingatkan adanya potensi perlambatan pada sektor riil secara nasional. Indeks PMI Manufaktur pada April mulai menunjukkan tanda kontraksi di level 49,1.
"Dinamika eksternal seperti perang dagang, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi global tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi stabilitas pertumbuhan ke depan," tambah Josua.
PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 akan berada di kisaran 5,1% – 5,3%. Ke depan, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter dianggap krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan daya beli masyarakat.
"Pemerintah perlu mempercepat belanja produktif dan menjaga kredibilitas APBN, sementara Bank Indonesia harus memastikan likuiditas tetap mengalir ke sektor produktif di tengah volatilitas pasar keuangan global," pungkasnya.
Editor: Muhammad Nur