Apa yang terlihat sederhana ini, sesungguhnya adalah fondasi dari sistem besar pengelolaan sampah kota. Tanpa pemilahan dari rumah, semua program hilir akan menjadi berat. Tanpa kebiasaan, fasilitas hanya akan menjadi simbol.
Namun peran perempuan tidak berhenti di dalam rumah. Di berbagai lorong dan kelurahan di Makassar, kita melihat perempuan bergerak lebih jauh.
Mereka membentuk bank sampah, mengelola sampah plastik, membuat kerajinan dari barang bekas, hingga memproduksi eco enzyme dari limbah dapur. Mereka tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Di sini, perempuan bukan hanya pelaksana. Mereka adalah penggerak. Hal yang sama terlihat dalam praktik urban farming. Di lahan sempit, di pekarangan rumah, bahkan di pot-pot sederhana, perempuan menanam cabai, sayur, dan tanaman obat.
Mereka memanfaatkan kompos dari sampah organik, menciptakan siklus yang utuh: dari dapur kembali ke tanah, dari tanah kembali ke dapur.
Urban farming bukan sekadar menanam. Ia adalah cara berpikir. Ia mengajarkan kemandirian, ketahanan pangan keluarga, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Dan lagi-lagi, perempuan berada di garis depan.
Jika kita melihat lebih dalam, pengolahan sampah terintegrasi dan urban farming sebenarnya adalah dua sisi dari satu sistem. Sampah organik tidak lagi dibuang, tetapi diolah menjadi kompos.
Kompos itu digunakan untuk menanam. Hasil tanaman kembali ke dapur. Siklus ini terus berputar, menciptakan ekosistem kecil yang jika dilakukan secara luas, akan memberi dampak besar bagi kota.
Namun, semua ini tidak akan berjalan tanpa satu hal: konsistensi. Dan konsistensi adalah kekuatan yang selama ini banyak dijaga oleh perempuan.
Kartini, jika kita maknai lebih dalam, bukan hanya tentang hak yang sama. Ia juga tentang kesempatan untuk berperan secara nyata. Hari ini, peran itu terlihat jelas dalam kerja-kerja ekologis yang sering dianggap kecil, tetapi sesungguhnya sangat menentukan.
Meski demikian, kita tidak boleh berhenti pada pengakuan. Perempuan tidak cukup hanya disebut sebagai “ujung tombak” tanpa diberi dukungan yang memadai. Program pemerintah harus hadir dengan pendekatan yang adil: menyediakan pelatihan, akses permodalan, dukungan teknologi, dan ruang partisipasi yang luas bagi perempuan.
Kesetaraan bukan berarti semua orang diperlakukan sama, tetapi setiap orang diberi kesempatan sesuai kebutuhannya. Perempuan yang aktif dalam pengelolaan sampah dan urban farming harus dilihat sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar pelengkap.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
