get app
inews
Aa Text
Read Next : Korban Kedua Pesawat ATR 42-500 Ditemukan Berjenis Kelamin Perempuan

Terungkap! Pegawai KKP Deden Maulana Teridentifikasi Jadi Korban Kedua Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

Kamis, 22 Januari 2026 | 10:59 WIB
header img
Penumpang Deden Maulana Pegawai KKP Jadi Korban Kedua Kecelakaan Pesawat ATR 42-500. Foto: LeoMN

Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol Muhammad Haris mengatakan, dalam proses identifikasi digunakan dua metode utama, yakni metode primer dan sekunder.

“Untuk primer cukup satu saja itu sudah bisa ditentukan identitas korban yaitu mulai dari sidik jari, profil gigi,” jelasnya.

Namun, jika metode tersebut mengalami kendala, maka pemeriksaan DNA menjadi opsi lanjutan. 

“Seandainya susah mendapatkan sidik jari dan sudah profil gigi, dilakukan pemeriksaan DNA. Inilah yang memerlukan waktu yang cukup,” ujarnya.

Selain itu, tim juga menggunakan metode sekunder sebagai pendukung identifikasi. 

“Metode sekunder, ini metode pemeriksaan melalui pemeriksaan pada korban dari catatan medis, kemudian properti yang digunakan seperti pakaian, kemudian apakah yang bersangkutan sudah kawin, memakai cincin kawin dan sebagainya,” tuturnya.

Untuk jenazah pertama, yakni Florencia, proses identifikasi dapat dilakukan dengan relatif cepat karena kondisi jasad masih memungkinkan dilakukan pemeriksaan sidik jari. 

“Sidik jarinya bisa diperiksa dengan oleh Puskiden polda Sulsel sehingga dengan cepat kita bisa merilis, mendeclare bahwa yang bersangkutan Florencia,” jelasnya.

Meski demikian, Haris mengakui adanya kendala dalam proses evakuasi dan identifikasi, terutama akibat medan dan cuaca ekstrem. 

Kondisi tersebut, kata dia, turut memengaruhi proses identifikasi jenazah berikutnya.

"Mungkin itulah yang jadi kendala saat identifikasi jenazah. Mudah-mudahan untuk jenazah kedua yang sudah kami terima dengan metode yang sudah kami jelaskan bisa teridentifikasi,” tuturnya.

Ia menegaskan, tim DVI tidak mengedepankan kecepatan, melainkan kepastian hasil. 

“Sangat sulit memang. Kita tidak membutuhkan kecepatan, tapi membutuhkan ketepatan karena ini adalah suatu keadaan yang harus pasti karena kita harus pastikan jenazah ini adalah korban ini,” tegasnya.

Menurut Haris, lamanya proses identifikasi sangat bergantung pada kondisi jenazah yang diterima. 

“Kalau kendala (identifikasi) satu jenazah itu tergantung kondisi jenazah. Kalau sidik jarinya masih bisa diperiksa, itu bisa diclear secepatnya, kalau kondisi jenazahnya sidik jarinya susah diperiksa itu dilakukan pemeriksaan pembanding yang lain,” jelasnya.

Ia memastikan, tim DVI telah bekerja maksimal sejak jenazah diterima. 

“Masih dalam proses, kita bekerja tadi pagi setelah kami terima jenazahnya. Tim kami bekerja maksimal mudah-mudahan kita mendapatkan apa yang secepatnya bisa kita umumkan,” katanya.

Mengenai target waktu penyelesaian identifikasi, Haris kembali menegaskan prinsip kehati-hatian.

Perbedaan kondisi fisik antara jenazah pertama dan kedua juga menjadi perhatian tim. 

“Iya berbeda, walaupun memang bersamaan ditemukan. Karena ada yang jatuh di kedalaman 400 meter, ada yang di 200 meter,” ungkap Haris.

Ia menambahkan, meski kondisi fisik jenazah masih relatif utuh, verifikasi data tetap harus dilakukan secara menyeluruh. 

“Kondisi fisiknya sebenarnya apa ya, iya masih utuh tapi kita perlu ketepatan ya. Makanya pada saat pemeriksaan antemortem nomor kontak keluarganya selalu kita simpan,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Nur

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut