get app
inews
Aa Text
Read Next : Ramai Isu Panic Buying BBM, Pemprov Sulsel–Pertamina Sidak SPBU dan Tegaskan Stok Aman

Bahlil Ingin Hentikan Impor Minyak, Akademisi Makassar Tekankan Penguatan Kilang Dalam Negeri

Rabu, 11 Februari 2026 | 21:27 WIB
header img
Pakar energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Muhammad Bachtiar Nappu membawakan materi dalam diskusi bersama wartawan Makassar. (Foto: LeoMN).

MAKASSAR, iNewsCelebes.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan penghentian impor sejumlah produk bahan bakar minyak olahan mulai tahun 2027 pasca peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Langkah ini sontak direspons kalangan akademisi di Makassar, Sulawesi selatan (Sulsel) dengan mendorong agar adanya penguatan kapasitas kilang dalam negeri.

Pakar energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Muhammad Bachtiar Nappu mengatakan, selama ini Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM) jadi dari luar negeri, termasuk Singapura, dengan harga yang relatif mahal.

“Kita selama ini selalu membeli bensin yang sudah jadi dari Singapura, tentu harganya mahal. Akan lebih bagus kalau di fasilitas RDMP kita olah sendiri minyak mentahnya, kemudian kita dapat sendiri bensin jadinya,” kata Bachtiar dalam diskusi komunitas Wartawan di Makassar, Rabu (11/02/2026).

Bachtiar menilai penguatan kilang melalui RDMP merupakan kebijakan penting untuk menekan ketergantungan impor sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Selain itu, kebijakan penghentian impor solar dinilai berdampak langsung terhadap penghematan devisa negara.

“Bagus untuk mengurangi ketergantungan impor dan menekan current account deficit. Karena kita beli dalam USD,” kata Bachtiar.

Dari perspektif ekonomi, Ekonom Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Syamsuri Rahim menyebut RDMP sebagai bagian dari strategi industrialisasi energi yang memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Dengan pengolahan minyak mentah di dalam negeri, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pembeli produk jadi, melainkan memperkuat sektor industri hilir energi.

“RDMP ini sebenarnya lebih condong ke industri pengolahan. Minyak mentah diolah menjadi bahan bakar, lalu punya produk turunan. Artinya ini bisa menggerakkan ekonomi karena ada diversifikasi produk sampai ke bawah. Tidak ada yang dibuang, semuanya diolah sehingga menciptakan proses produksi yang punya nilai tambah. Apakah berdampak ke ekonomi? Ya pasti berdampak,” ujar Syamsuri.

Ia juga menilai kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengarahkan SPBU swasta untuk menyerap BBM domestik dari Pertamina merupakan langkah strategis agar hasil produksi kilang dalam negeri memiliki kepastian pasar.

“Seharusnya kan begitu, supaya terjadi (penghematan devisa dari impor). Apalagi produk turunan dari minyak mentah sampai jadi solar itu bisa dibeli oleh swasta. Jadi tidak perlu lagi mengimpor,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik M. Kafrawy Saenong menilai penghentian impor solar dan optimalisasi penyerapan produk kilang domestik merupakan langkah maju dalam memperkuat kemandirian energi nasional. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan tata kelola agar iklim usaha tetap sehat.

“Ya tentu ini adalah bagian dari langkah bagaimana menyehatkan siklus ekonomi energi dalam negeri. Namun, Pertamina juga jangan sampai menjadi tidak menguntungkan para investor dalam hal ini,” ujarnya.

Para akademisi berharap kebijakan penguatan kilang dalam negeri melalui RDMP tidak hanya berhenti pada produksi, tetapi juga memperkuat rantai pasok energi nasional secara menyeluruh demi mewujudkan kemandirian energi dan stabilitas ekonomi jangka panjang.

Editor : Muhammad Nur

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut