Viral Pemuda Berkaos Raider di Bentrok UMI Makassar, Danyonif 700: Bukan Anggota TNI Tapi Sekuriti
MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Sebuah video yang memperlihatkan seorang pemuda mengenakan kaos bertuliskan Raider di lokasi bentrokan antara mahasiswa dan pengemudi ojek online di Kampus Universitas Muslim Indonesia viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (24/4/2026) lalu.
Setelah ditelusuri, pemuda tersebut dipastikan bukan anggota TNI, melainkan warga sipil yang bekerja sebagai sekuriti perumahan. Sementara satu orang lainnya diketahui masih berstatus pelajar.
Menanggapi viralnya video tersebut, Komandan Yonif 700 Raider, Letkol Inf. Iwan Sunarya, pada Sabtu (25/4/2026) mendatangi kediaman salah satu pemuda bernama Suhaib di Jalan Balana, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan identitas yang bersangkutan sekaligus meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
“Kami datang untuk mengklarifikasi bahwa yang ada di video tersebut bukan anggota 700 Raider, melainkan Saudara Suhaib yang bekerja sebagai sekuriti,” ujar Iwan Sunarya.
Ia menjelaskan, Suhaib berada di sekitar lokasi karena hendak menonton konser di Mall Nipah Makassar. Namun saat melihat adanya keributan di Kampus UMI, yang bersangkutan mendekat karena penasaran ingin mengetahui kejadian tersebut.
“Hanya ingin melihat konser, tetapi sedang melihat ada keributan di UMI, dia penasaran ingin melihat apa yang terjadi.”
Iwan juga menegaskan TNI Angkatan Darat tidak pernah terlibat dalam aksi provokasi maupun kerusuhan. Ia meminta masyarakat tidak mudah mempercayai video viral yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Kami sampaikan kepada seluruh masyarakat, tidak akan pernah atau tidak mungkin kami melaksanakan kegiatan provokasi, apalagi ikut dalam kegiatan kerusuhan,” tegasnya.
Ia turut mengingatkan agar masyarakat tidak membenturkan institusi negara dengan warga sipil melalui informasi menyesatkan yang beredar di media sosial.
“Kami sudah tahu sebenarnya siapa yang mengupload video tersebut. Jadi bagi siapa saja yang merasa jangan sampai mengulanginya lagi, jangan sampai institusi dibentur-benturkan, apalagi institusi dengan masyarakat,” jelasnya.
Sebelumnya, dalam video yang beredar, salah seorang pemuda terlihat mengenakan kaos bertuliskan Raider, satuan elit infanteri TNI Angkatan Darat. Keberadaannya di tengah kericuhan sempat memunculkan spekulasi liar di media sosial. Bahkan, pemuda tersebut disebut sebagai intel saat diamankan tim gabungan di lokasi kejadian.
Usai diperiksa dan digeledah, pemuda itu kemudian diminta meninggalkan area bentrokan. Belakangan diketahui, dua orang dalam video tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan institusi TNI. Kaos yang dikenakan disebut dibeli secara daring.
Klarifikasi Suhaib, Pemuda Berkaos Raider
Sementara itu, Suhaib turut memberikan klarifikasi terkait keberadaannya di lokasi aksi unjuk rasa mahasiswa UMI Makassar. Ia mengaku awalnya hendak menuju Mall Nipah untuk menonton konser.
“Saya mau ke Mall Nipah nonton konser, setelah ke sana belum ada artisnya, belum datang. Sembari saya menunggu artisnya datang, saya keluar untuk menonton demo karena saya lihat sudah dimasuki (kampus) dengan ojol,” ucapnya.
Melihat kerumunan orang di depan gerbang UMI, Suhaib pun mendekat hingga kemudian didatangi aparat kepolisian dan dimintai identitasnya.
“Saya sudah di dalam, di pertengahan kampus lalu datanglah Brimob itu untuk menanyakan saya anggota atau tidak. Setelah itu dia meminta identitas saya,” lanjutnya.
Ia menjelaskan saat itu sedang mengenakan kaos beratribut TNI yang dibeli melalui aplikasi belanja online.
“Kaos ini, saya membelinya di Shopee seharga Rp113.000. Saya membelinya karena saya cinta dengan TNI.”
Terkait tudingan mencemarkan institusi TNI, Suhaib mengaku tidak sengaja mengenakan kaos tersebut saat datang ke lokasi konser.
“Saya sebenarnya tidak sengaja memakai kaos ini buat nonton konser. Saya cuma memakainya karena saya cinta dengan tentara,” tegasnya.
Suhaib menambahkan, saat kejadian dirinya tidak ikut diamankan bersama sejumlah mahasiswa, melainkan hanya diminta meninggalkan lokasi.
“Tidak, setelah itu disuruh balik,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Nur