Kisah Andi Herawati! Eks Biduan Orkes Kini Jadi Driver Ojek demi Bertahan Hidup
GOWA, iNewsCelebes.id - Di tengah riuh peringatan Hari Buruh yang kerap diwarnai tuntutan dan orasi, kisah nyata justru datang dari sudut Desa Pannakukang, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.
Seorang ibu berusia 64 tahun, Andi Herawati Hafid, menjalani hidup yang tak banyak disorot, namun menyimpan keteguhan yang menggetarkan.
Perempuan kelahiran Ujung Pandang, 1962 itu, menjadi potret nyata ketangguhan seorang ibu.
Di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia mengemudi ojek offline, menyusuri jalanan demi menghidupi anak-anaknya 12 orang yang pernah ia besarkan dengan tangan dan keringatnya sendiri.
Momentum Hari Buruh yang dirangkaikan dengan "One Day One Distric" Pemkab Gowa di Desa Romangloe, Minggu (10/5/2026) akan datang, mengangkat kisah Andi Herawati sebagai inspirasi.
Sebagai kader KSPSI Gowa, Andi Herawati bukan sekadar simbol, melainkan representasi nyata dari perjuangan buruh sektor informal yang kerap luput dari perhatian.
Sore itu, ia ditemui iNews.id di kediamannya yang sederhana. Wajahnya menyimpan garis waktu panjang tentang jatuh bangun, kehilangan, dan keteguhan yang tak pernah benar-benar padam.
“Dulu saya penyanyi orkes dangdut, ikut Roseta sampai Sasnada yang cukup populer waktu itu,” ujarnya mengenang masa lalu, Selasa (5/5).
Namun panggung hiburan tak selamanya menjadi sandaran hidup.
Memasuki tahun 2000-an, ia memilih turun ke jalan, beralih menjadi penjual ikan keliling atau pagadeng juku.
Dengan sepeda motor, ia menyusuri lorong-lorong dari Tabaria hingga Manuruki, menjajakan dagangan demi menyambung hidup.
Dari hasil itu, ia menabung sedikit demi sedikit hingga mampu membeli bentor (Becak Motor red).
Kendaraan roda tiga itu kemudian menjadi alat perjuangan baru mengantar anak sekolah, membawa penumpang, sekaligus menjadi saksi bisu perjalanan panjangnya sebagai tulang punggung keluarga.
“Dari bentor itu saya hidupkan anak-anak,” katanya.
Dari 12 anak yang dilahirkannya, empat di antaranya telah meninggal dunia.
Kini, tersisa delapan anak yang masih menjadi bagian dari perjuangannya sebagian di antaranya masih bergantung pada kerja kerasnya.
Ia kembali menjalani peran gandasebagai ibu sekaligus ayahuntuk kedua kalinya.
Tak ada keluh panjang. Hanya kerja yang tak pernah berhenti.
Rumah sederhana berukuran 6x12 meter yang berdiri di kampung itu pun menjadi bukti ketekunan itu.
Ia membangunnya perlahan, dari tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun.
“Suami kedua saya tukang bangunan, jadi kami bangun sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Namun hidup tak pernah benar-benar ringan. Di usia senja, Andi Herawati tetap melaju di jalanan, mengantar penumpang bahkan hingga ke Pangkep dan Jeneponto.
Tak hanya itu, ia juga menerima pesanan kue tradisional, bahkan memungut botol plastik bekas untuk menambah biaya listrik.
“Saya kerja apa saja, yang penting halal,” ucapnya.
Di rumah itu, ia kini tinggal bersama satu anak dan seorang cucu.
Kondisi ekonomi keluarga yang belum stabil membuatnya tak punya pilihan selain terus bergerak.
Langit mungkin tak selalu ramah, jalanan tak selalu mulus. Namun bagi Andi Herawati, berhenti bukanlah pilihan.
Kisahnya bukan sekadar cerita tentang kemiskinan atau kerja keras.
Ini adalah catatan tentang daya tahan, tentang bagaimana seorang ibu menjahit hari-harinya dengan harapan, meski berkali-kali hidup mencoba merobeknya.
Sosok seperti Andi Herawati hadir sebagai pengingat bahwa di luar angka statistik dan kebijakan, ada manusia-manusia yang bertahan bukan karena sistem yang kuat, tetapi karena hati yang tak pernah menyerah.
Pesan Andi Herawati sederhana waktu itu, bahwa kerja keras mungkin tidak selalu mengubah nasib secara baik, tetapi ia menjaga martabat tetap berdiri.
Dan seorang ibu, dengan segala keterbatasannya, mampu menjadi tiang yang tak runtuh, bahkan ketika badai datang berulang kali.
Editor : Arham Hamid