MAKASSAR, iNewsCelebes.id – Provinsi Sulawesi Selatan kembali menunjukkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional terbesar di luar Pulau Jawa. Hingga awal tahun 2026, surplus beras Sulsel tercatat mencapai 2,5 juta ton. Namun di balik capaian tersebut, ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem mulai menjadi tantangan serius yang tidak bisa diabaikan.
Kondisi cuaca yang semakin tidak menentu disebut berpotensi mengganggu produktivitas pertanian, memicu kekeringan di sejumlah sentra pangan, hingga meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman.
Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) sekaligus Penanggung Jawab IP3OPT Wilayah IV Maros, Abdul Kadir, mengatakan wilayah Sulawesi Selatan memiliki karakteristik iklim yang terbagi dalam tiga sektor utama, yakni sektor timur, sektor barat, dan sektor peralihan.
Namun, menurutnya, wilayah sektor barat menjadi kawasan yang paling rentan terdampak cuaca ekstrem, khususnya kekeringan.
“Wilayah sektor barat meliputi Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar sampai Jeneponto. Daerah-daerah ini paling terdampak cuaca ekstrem, khususnya kekeringan,” ujar Abdul Kadir.
Ia menjelaskan, pola musim tanam di Sulsel terbagi dalam dua periode utama, yakni musim rendengan pada Oktober hingga Maret dan musim gadu atau musim kemarau pada April sampai September. Karena itu, petani diminta lebih cermat menentukan waktu tanam agar masa panen tidak bertepatan dengan puncak musim kering.
Abdul Kadir menyarankan percepatan masa tanam sejak April agar proses panen bisa dilakukan sebelum Agustus hingga September yang biasanya menjadi periode kekeringan paling parah.
“Kalau tanamnya dipercepat di bulan April, insyaallah panennya sudah akhir Juli atau awal Agustus sehingga relatif aman dari puncak kekeringan,” katanya.
Selain pengaturan jadwal tanam, penggunaan varietas padi berumur pendek juga dinilai menjadi salah satu strategi adaptasi menghadapi perubahan iklim. Varietas seperti M70D, Pajajaran, Cakrabuana, Inpari 13, dan Inpari 19 disebut lebih tahan karena memiliki masa panen kurang dari 100 hari.
Tidak hanya ancaman kekeringan, perubahan cuaca ekstrem juga dinilai meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Tanaman yang kekurangan air cenderung memiliki daya tahan lemah sehingga lebih mudah terserang hama seperti ulat grayak, penggerek batang, tikus, hingga penyakit blas akibat cendawan.
“Kalau tanaman kekurangan air, otomatis ketahanannya lemah. Akibatnya hama dan penyakit lebih gampang menyerang,” jelasnya.
Untuk mengurangi dampak tersebut, pemerintah terus mendorong penggunaan agen hayati sebagai metode pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan cendawan dan bakteri baik dinilai lebih aman dibanding pemakaian pestisida kimia secara berlebihan.
“Kalau masih bisa dikendalikan dengan agen hayati, itu lebih baik. Penggunaan bahan kimia adalah langkah terakhir supaya ekosistem tetap terjaga,” ujarnya.
Pemerintah daerah bersama penyuluh pertanian dan berbagai pihak terkait juga terus melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan serangan hama guna mempercepat langkah penanganan di lapangan.
Meski tantangan perubahan iklim semakin besar, Abdul Kadir optimistis sektor pertanian Sulawesi Selatan tetap mampu bertahan. Menurutnya, karakteristik wilayah pertanian Sulsel yang berbeda-beda justru menjadi kekuatan karena musim tanam antarwilayah tidak berlangsung bersamaan sehingga mampu saling menopang produksi pangan daerah.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
