MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Sejumlah wilayah di Sulawesi selatan mengalami pemadaman listrik bergilir sejak Minggu (30/8/2026), termasuk Kota Makassar yang kembali mengalami pemadaman pada Senin (31/8/2026).
Pemadaman terjadi di tengah menurunnya ketersediaan air pada sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menjadi bagian dari sistem kelistrikan Sulsel.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sulsel Jufri Rahman mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya, debit air di sejumlah PLTA mulai menurun akibat kondisi kemarau.
"Iya saya dilaporkan faktornya pembangkit listrik tenaga air mulai kekurangan air, PLTA Bakaru tinggi air permukaannya menurun, Bili-Bili juga menurun," kata Jufri saat ditemui di Hotel Aryaduta, Jalan Somba Opu, Makassar, Senin (31/8/2026).
Salah satu pembangkit yang terdampak kondisi tersebut adalah PLTA Bakaru di Kabupaten Pinrang. Berdasarkan data Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Kementerian ESDM, PLTA Bakaru memiliki dua unit pembangkit dengan kapasitas terpasang masing-masing 63 megawatt (MW).
Selain Bakaru, PLTA Bili-Bili juga menjadi bagian dari sistem pembangkit listrik tenaga air di Sulsel dengan kapasitas sekitar 20 MW.
Sulsel juga memiliki sejumlah PLTA lainnya, di antaranya PLTA Larona, PLTA Balambano dan PLTA Karebbe di Kabupaten Luwu Timur. Ketiga pembangkit tersebut memanfaatkan aliran Sungai Larona yang mendapat pasokan air dari kawasan Danau Matano, Mahalona dan Towuti.
PLTA Larona memiliki kapasitas sekitar 165 MW, PLTA Balambano sekitar 130 MW, dan PLTA Karebbe sekitar 140 MW. Sementara PLTA Malea di Kabupaten Tana Toraja memiliki kapasitas sekitar 90 MW.
Di sisi lain, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulselrabar menyebut pemadaman dilakukan sebagai bagian dari pengaturan beban untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar Niki Rendra Adisetiawan mengatakan, saat ini terdapat pemeliharaan pada sejumlah infrastruktur ketenagalistrikan yang berdampak terhadap pasokan listrik di beberapa wilayah.
"Sedang dilakukan pemeliharaan pada infrastruktur ketenagalistrikan yang berdampak pada pasokan listrik di sejumlah wilayah," kata Niki dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
PLN memperkirakan pengaturan beban berlangsung sekitar dua jam. Namun, durasi pemadaman dapat berubah sesuai kondisi di lapangan.
"Untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan, PLN melakukan pengaturan beban dengan estimasi durasi sekitar dua jam, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan," ujarnya.
Pemadaman listrik bergilir dirasakan warga di sejumlah wilayah Kota Makassar. Pada Senin, salah satu wilayah yang terdampak yakni Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea.
Jufri mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan PLN untuk mencari solusi agar pemadaman tidak berlangsung secara berkelanjutan.
Dia juga meminta masyarakat menyiapkan sumber listrik alternatif seperti generator. Namun, opsi tersebut juga menghadapi kendala karena membutuhkan bahan bakar solar.
"Siapkan generator cuma generator butuh solar, dan solar juga sekarang ngantri juga," jelasnya.
Menurut Jufri, kondisi pasokan listrik tersebut perlu segera dicarikan solusi, terutama jika kemarau ekstrem masih berlangsung dan ketersediaan air untuk pembangkit terus menurun.
Sementara itu, PLN menyatakan terus melakukan percepatan agar pasokan listrik di wilayah terdampak dapat kembali normal.
"Tim PLN terus melakukan upaya percepatan agar pasokan listrik dapat segera kembali normal," kata Niki.
PLN juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan akibat kondisi tersebut.
"PLN mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan terima kasih atas pengertian serta kesabarannya," ucapnya.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
