Sementara itu, Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), Azhar Ghazali, mengatakan gangguan penerbangan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah bukan kali pertama terjadi.
Ia menyebut, situasi serupa pernah berlangsung ketika konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memanas. Dalam kondisi tersebut, maskapai cenderung menunda atau membatalkan penerbangan untuk menghindari risiko keselamatan.
"Pernah terjadi juga sebelumnya, pada saat situasi di Timur Tengah lagi kurang bagus ya. Sehingga Airlines tidak mau mengambil risiko besar. Mereka lebih bagus melakukan penundaan atau cancel flight untuk menjaga keamanan airlines dan penumpang tentu saja," tuturnya.
Azhar meminta seluruh travel anggota Amphuri terus berkoordinasi dengan maskapai dan memantau perkembangan situasi keamanan. Namun, ia mengingatkan persoalan tidak boleh hanya dilihat dari sisi keberangkatan jemaah dari Indonesia.
Menurutnya, kepastian pemulangan jemaah yang masih berada di Arab Saudi juga harus menjadi perhatian bersama, termasuk maskapai dan pemerintah.
"Kita berharap maskapai yang masih terbang tetap bertanggung jawab untuk memulangkan jemaah yang sementara berada di sana. Mungkin ini perlu dibicarakan dengan pihak yang terkait, terutama pemerintah, agar diambil tindakan untuk tetap bisa memulangkan jemaah yang sedang berada di sana," tegasnya.
"Jangan hanya memikirkan bahwa kondisi tidak terbang dari sini ke sana itu tidak aman. Tapi tidak memikirkan kondisi jemaah yang berada di sana untuk dipulangkan," imbuhnya.
Azhar mengaku belum memiliki data pasti mengenai jumlah jemaah yang batal berangkat maupun yang terdampak kepulangan. Hal itu karena pembatalan penerbangan dari Makassar baru terjadi pada hari tersebut.
"Belum ada, karena baru hari ini terhitung cancel flight dari Makassar," kata Azhar.
Azhar memperkirakan gangguan atau penutupan bandara di Arab Saudi dapat berlangsung selama satu hingga dua hari ke depan. Meski demikian, ia mengingatkan penyelenggara perjalanan umrah untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal keberangkatan selama sepekan ke depan.
Ia juga meminta jemaah tidak panik dan menunggu informasi resmi dari maskapai maupun perkembangan situasi di Arab Saudi sebelum mengambil keputusan terkait perjalanan.
"Jadi saya sampaikan kepada jemaah yang mendapatkan informasi ini, untuk tetap tenang, tetap sabar. Kita menunggu update informasi terkini dari penerbangan dan situasi terkini tentu saja juga dari Tanah Suci," ucapnya.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
