Lima Pelajar Korban Oplosan di Pulau Sapuka Direncanakan Dirujuk ke RSUD Pangkep
PANGKEP, iNews.id – Lima pelajar korban minuman oplosan di Pulau Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, direncanakan akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Kepala Puskesmas Sapuka, Hj Surianti Sattuang, mengatakan saat ini masih ada lima orang korban yang menjalani perawatan. Rencana rujukan tersebut masih menunggu keputusan dari pihak keluarga korban.
“Rencananya memang akan dirujuk, tapi tergantung keluarga. Apakah ke RSUD Pangkep atau ke Rumah Sakit Makassar,” ujar Surianti kepada iNews.id , Sabtu (7/2/2026) siang via telephone WhatsApp.
Menurutnya, seluruh korban yang diketahui sempat mengonsumsi minuman oplosan telah diberikan surat rujukan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit.
“Bahkan yang lain juga, semua yang pernah minum itu saya kasih rujukan poli untuk kontrol ke rumah sakit. Kita antisipasi kalau nanti terjadi sesuatu,” jelasnya.
Terkait kondisi korban, Surianti mengungkapkan sebagian pasien menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Namun, beberapa lainnya masih mengeluhkan gangguan kesehatan.
“Dari lima orang ini, ada yang sudah membaik, tapi ada juga yang masih ada keluhan. Ada yang tensinya masih tinggi, ada juga yang masih mengeluh sakit perut,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dampak dari konsumsi metanol di antaranya kerusakan saraf mata secara permanen, gangguan ginjal dan hati, hingga menyebabkan kematian.
“Metanol bisa merusak saraf mata secara permanen, merusak ginjal dan hati, bahkan menyebabkan kematian. Dosis kecil sekitar 30 mililiter saja bisa mematikan jika tidak segera ditangani,” jelasnya.
Surianti juga meluruskan anggapan keliru yang berkembang di masyarakat terkait pencampuran spiritus dengan minuman lain.
“Mencampur spiritus dengan susu atau minuman energi tidak akan menghilangkan racunnya, justru dapat mempercepat penyerapan racun ke dalam aliran darah,” tegasnya.
Saat ditanya soal informasi adanya korban dengan kondisi sangat parah, Surianti belum dapat memastikan dan menyatakan akan melakukan pengecekan ulang.
“Saya cek dulu ya, karena masih di Puskesmas juga ini. Saya lihat lagi dulu untuk update-nya,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, peristiwa tragis menimpa 13 pelajar di Pulau Sapuka pada Selasa (3/2/2026) sekitar pukul 12.00 WITA. Insiden bermula saat seorang pelajar berinisial A membeli satu botol spiritus ukuran 650 mililiter, air mineral 1,5 liter, dua sachet minuman energi, serta satu sachet susu kental manis di sebuah toko di tepi pantai Pulau Sapuka.
Minuman tersebut kemudian diracik dan dikonsumsi bersama oleh para pelajar. Akibatnya, dua pelajar meninggal dunia, sementara 11 orang lainnya sempat menjalani perawatan medis.
Kasi Humas Polres Pangkep, AKP Imran, menyampaikan bahwa hingga Jumat siang masih ada korban yang menjalani perawatan.
“Total 13 orang, dua meninggal dunia. Sempat 11 orang dirawat, dan saat ini ada empat orang yang masih dirawat, yakni IK (16), IN (16), AM (17), dan AB (16),” ujarnya.
Seluruh korban diketahui berstatus pelajar dengan rentang usia 15 hingga 17 tahun. Aparat kepolisian Polres Pangkep masih melakukan pendalaman dan penyelidikan terkait peredaran dan penjualan bahan berbahaya tersebut di wilayah kepulauan.
Editor : Muhammad Nur