Setelah penemuan tersebut, Safaruddin langsung melaporkan ke aparat desa, tokoh agama, serta warga setempat. Aparat kepolisian kemudian melakukan pendataan saksi, olah TKP sederhana, serta koordinasi dengan pihak desa.
Sekitar pukul 09.00 Wita, aparat desa bersama warga sepakat untuk memakamkan jenazah secara layak. Proses pemakaman dilakukan secara Islam di pekuburan umum yang berada di samping lapangan desa, dipimpin oleh imam masjid setempat.
Abdul Samad juga menegaskan bahwa hingga kini pihak kepolisian belum bisa memastikan apakah jenazah tersebut berkaitan dengan laporan tiga nelayan yang sebelumnya hilang di perairan sekitar.
“Soal tiga nelayan hilang sebelumnya, itu belum bisa kami pastikan. Belum tahu bagaimana pastinya,” jelasnya.
Usai penemuan tersebut, polisi langsung melakukan sejumlah langkah, mulai dari melaporkan ke pimpinan, mencatat keterangan saksi, hingga melakukan penyelidikan dan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) di lokasi kejadian.
Pihak kepolisian juga memanggil bidan desa untuk melakukan visum luar terhadap jenazah. Mengingat kondisi mayat yang sudah membusuk dan keterbatasan fasilitas di pulau, aparat desa dan warga sepakat melakukan pemakaman pada hari yang sama.
"Kita sudah minta tolong, lalu langsung dikubur hari ini. Sudah dikuburmi tadi,” tambah Abdul Samad.
Jenazah dimakamkan secara layak di pemakaman umum Pulau Doang-Doang Lompo. Polisi menduga kuat korban merupakan nelayan yang tenggelam dan hanyut terbawa arus laut dari perairan barat.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
