Eco Enzyme Masuk Lapas, Dari Limbah Jadi Harapan Baru

Arham Hamid
Eco Enzyme masuk Lapas Kelas 1 Makassar. Foto: Arham Hamid

MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Di balik tembok tinggi Lapas Kelas I Makassar, sebuah perubahan pelan namun pasti mulai tumbuh. Bukan melalui pendekatan keamanan semata, melainkan lewat sesuatu yang sering dianggap remeh: limbah organik rumah tangga.

Senin (20/4), suasana lapas berbeda dari biasanya. Sejumlah Warga Binaan tampak berkumpul, bukan untuk apel rutin, tetapi mengikuti pelatihan pembuatan eco enzyme—cairan hasil fermentasi limbah organik yang dikenal sebagai solusi alami untuk kebersihan dan pengelolaan sampah. Kegiatan ini digagas oleh Yayasan Butta Porea Indonesia bersama mitra komunitas dan pegiat lingkungan.

Dipimpin langsung oleh Andi Fadly Arifuddin (Fadly Padi), Ketua Dewan Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Butta Porea Indonesia, kegiatan ini turut melibatkan Ketua Yayasan Andi Pangerang Nur Akbar, Komunitas Manggala Tanpa Sekat yang diwakili Mashud Azikin, serta tim Klik Hijau. Kolaborasi lintas komunitas ini menjadi penanda bahwa persoalan lingkungan, termasuk di dalam lapas, membutuhkan kerja bersama.

Namun pelatihan ini tidak berhenti pada tataran teori. Eco enzyme yang dipelajari langsung dipraktikkan. Para Warga Binaan diajak mengolah sisa buah dan sayuran menjadi cairan multifungsi. Hasilnya, sekitar 100 liter eco enzyme berhasil diproduksi dalam satu kegiatan.

Cairan berwarna cokelat itu bukan sekadar produk. Ia menjadi simbol perubahan cara pandang: dari sampah sebagai beban, menjadi sumber daya. Di lingkungan lapas, eco enzyme dimanfaatkan untuk penyemprotan area hunian, saluran air, hingga fasilitas umum sebagai upaya meningkatkan standar kebersihan lingkungan (environmental hygiene).

Kepala Lapas Kelas I Makassar, Sutarno, menyambut positif inisiatif ini. Menurutnya, pendekatan seperti ini tidak hanya berdampak pada kebersihan fisik lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah bagi Warga Binaan.
“Ini bukan sekadar pelatihan. Ini adalah bekal keterampilan yang bisa mereka bawa ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Selama ini, persoalan lapas kerap dipandang dari sudut sempit: overkapasitas, keamanan, dan keterbatasan fasilitas. Padahal, di dalamnya terdapat potensi besar untuk pembinaan yang lebih bermakna.

Program eco enzyme ini membuka ruang baru—bahwa lapas dapat menjadi laboratorium perubahan sosial, termasuk dalam isu lingkungan.

Lebih jauh, kegiatan ini menjawab dua persoalan sekaligus. Pertama, pengelolaan sampah organik yang selama ini menjadi sumber masalah bau dan sanitasi. Kedua, peningkatan kualitas hidup di dalam lapas melalui lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Perwakilan Yayasan Butta Porea Indonesia menegaskan bahwa eco enzyme bukan sekadar teknologi sederhana, tetapi pintu masuk perubahan perilaku.

“Ketika seseorang mulai memilah dan mengolah sampahnya sendiri, di situ terjadi perubahan cara berpikir. Dari yang sebelumnya membuang, menjadi bertanggung jawab,” ujarnya.

Di titik inilah pelatihan ini menemukan makna terdalamnya. Ia tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis sesuatu yang sering hilang dalam kehidupan sehari-hari.

Menariknya, pendekatan ini juga menyentuh aspek psikologis Warga Binaan. Kegiatan produktif seperti ini memberi rasa memiliki, tanggung jawab, dan harapan. Bahwa mereka tidak sekadar menjalani masa hukuman, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kembali sebagai individu yang lebih berdaya.

Di tengah isu krisis sampah yang terus menghantui kota-kota besar, langkah kecil dari dalam lapas ini justru menawarkan perspektif baru. Bahwa solusi tidak selalu harus datang dari teknologi canggih atau investasi besar. Kadang, ia lahir dari kesadaran sederhana dan kemauan untuk berubah.

Program ini pun tidak berhenti di Makassar. Yayasan Butta Porea Indonesia berharap model serupa dapat direplikasi di berbagai lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Jika satu lapas mampu memproduksi dan memanfaatkan eco enzyme secara mandiri, maka dampaknya akan jauh lebih luas ketika gerakan ini diadopsi secara nasional.

Pada akhirnya, eco enzyme di Lapas Kelas I Makassar bukan hanya tentang cairan hasil fermentasi. Ia adalah simbol transformasi—bahwa dari ruang yang sering dipandang terbatas, justru lahir gagasan yang membebaskan.

Dari sampah menjadi solusi. Dari pembinaan menjadi pemberdayaan. Dan dari dalam lapas, tumbuh harapan baru tentang bagaimana manusia, lingkungan, dan masa depan bisa kembali dipertemukan dalam satu tujuan: hidup yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Editor : Muhammad Nur

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network