Dramatis! Pemadaman Karhutla Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Pangkep

Udin Syahrudin
Petugas Manggala Agni berjibaku padamkan api di TN Babul. Foto: Udin Syahrudin

PANGKEP, iNewsCelebes.id – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, memasuki hari kelima. Petugas harus berjibaku di medan ekstrem berupa lereng karst, tepi jurang hingga celah-celah bebatuan untuk mengendalikan kobaran api.

Sebelumnya, api terdeteksi di kawasan Gunung Kampung Lesang dan Gunung Kampung Matojeng. Namun hingga hari kelima, api terus menyebar dan kini telah menjalar ke kawasan Gunung Arung Sabila.

Kondisi medan yang terjal membuat proses pemadaman berlangsung dramatis. Petugas Manggala Agni bahkan harus menggunakan jet shooter untuk menjangkau titik api yang berada jauh dan sulit diakses menggunakan selang.

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab, mengatakan sekitar 30 personel Manggala Agni masih dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Mereka juga mendapat dukungan dari personel Seksi 1, Seksi 2, serta sejumlah unsur lainnya.

“Sampai dengan hari kelima ini, kami masih turun dengan kekuatan penuh, dengan melibatkan sekitar 30 personel Manggala Agni. Kami juga dibantu rekan-rekan dari Seksi 1 dan Seksi 2 serta beberapa unsur lainnya yang turut membantu proses pemadaman,” ujar Abdul Rajab, Minggu (4/9/2026) saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, petugas menggunakan mesin dan selang untuk menjangkau titik api yang masih memungkinkan diakses. Sementara titik api yang berada jauh di lereng dan celah karst ditangani menggunakan jet shooter.

Kondisi kawasan karst menjadi salah satu kendala terbesar. Petugas tidak bisa sembarangan memanjat atau masuk ke celah-celah karst karena berisiko membahayakan keselamatan personel.

“Karena kondisi karst yang tidak memungkinkan teman-teman membawa selang jauh ke atas, sehingga efektifnya menggunakan jet shooter untuk menjangkau lokasi-lokasi di tebing karst,” katanya.

Karakteristik kebakaran yang menyebar di sela-sela karst juga membuat sejumlah titik api sulit dijangkau. Bahkan, kobaran api di bagian puncak dan celah karst berpotensi memunculkan titik api baru.

Petugas kini memprioritaskan perlindungan kawasan yang berada di sekitar permukiman warga. Langkah tersebut dilakukan karena titik api telah menyebar jauh dari lokasi awal kebakaran.

“Kami lebih fokus kepada perlindungan area-area di sekitar permukiman masyarakat,” jelasnya.

Hingga Minggu siang, luas kawasan yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar 26 hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan hari pertama yang diperkirakan hanya sekitar 10 hingga 15 hektare.

Perluasan kebakaran dipicu sulitnya menjangkau api di puncak dan celah karst, ditambah kondisi angin yang cukup kencang.

“Dari hari pertama semakin meluas. Hari pertama sekitar 10-15 hektare. Karena penanganan kebakaran di puncak dan celah karst tidak memungkinkan, sehingga pada hari selanjutnya menyebar karena kondisi angin juga sangat kencang di lokasi,” ungkap Abdul Rajab.

Tak hanya itu, pergerakan material dari kawasan karst juga diduga memicu munculnya titik api baru. Batu yang jatuh dari kawasan puncak karst dapat membawa material terbakar ke lokasi lain.

Akibatnya, petugas menemukan sejumlah titik api yang berada jauh dari lokasi awal kebakaran dan mulai mendekati kawasan permukiman.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan jumlah personel untuk menjangkau seluruh titik api yang tersebar di medan terjal.

“Kita butuh dukungan dari berbagai pihak untuk kegiatan pemadaman. Selain itu, kami juga meminta masyarakat yang berada di sekitar kawasan karst ikut mendukung kegiatan pemadaman,” katanya.

Untuk memperkuat penanganan, Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung telah berkoordinasi dengan Satuan Manggala Agni Daops Gowa. Tim tambahan diharapkan dapat bergabung untuk membantu proses pemadaman.

Terkait kapan kebakaran dapat sepenuhnya dipadamkan, Abdul Rajab mengaku belum dapat memastikan. Kondisi angin dan cuaca menjadi faktor yang sangat menentukan.

“Kami belum bisa memprediksi sampai kapan. Kami berharap kondisi angin tidak terlalu kencang dan dalam waktu dekat mudah-mudahan ada hujan, sehingga bisa mempercepat redanya kebakaran api di puncak,” ujarnya.

Sementara itu, kebakaran telah menjalar melintasi sejumlah zona di dalam kawasan taman nasional. Bahkan, kawasan yang terbakar tidak hanya berada di zona rimba, tetapi juga telah mencapai zona inti.

“Yang terbakar ini dari zona rimba sampai zona inti sudah ada yang terbakar, karena sudah menyeberang dari titik api awal ke sebelah, dan itu melintasi beberapa zona Taman Nasional,” tegas Abdul Rajab.
Petugas kini terus melakukan pemadaman sekaligus penyekatan untuk mencegah kobaran api kembali meluas dan mengancam permukiman warga.

Editor : Muhammad Nur

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network