PANGKEP, iNewsCelebes.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan pegunungan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), semakin meluas. Hingga hari ketiga penanganan intensif, total area yang terbakar mencapai 93,43 hektare.
Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab, mengatakan luas kebakaran tersebut merupakan akumulasi dari kejadian sejak Senin hingga Rabu, 12–14 Oktober 2026. Vegetasi yang terbakar didominasi tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hutan hingga tajuk di kawasan karst.
"Total akumulasi luas karhutla sampai hari ini sudah mencapai 93,43 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hingga ke tajuk karst," ungkap Abdul Rajab, Kamis (15/10/2026).
Berdasarkan data Balai TN Babul, luas kebakaran mengalami peningkatan signifikan dalam tiga hari terakhir. Pada Senin (12/10/2026), kebakaran menghanguskan 34,74 hektare lahan. Sehari kemudian, luas area terbakar bertambah 13,67 hektare.
Lonjakan terbesar terjadi pada Rabu (14/10/2026), ketika api melalap tambahan lahan seluas 45,02 hektare dalam sehari.
Saat ini, titik kebakaran terkonsentrasi di dua lokasi utama, yakni kawasan Wae Sellue, Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, serta Batu Napara, Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Pangkep. Operasi penanganan dipusatkan di Posko Utama Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Minasatene.
" titik api saat ini terkonsentrasi di dua lokasi utama, yakni kawasan Wae Sellue Bangkasakeang dan Batu Napara," ujarnya.
Pergerakan api terus dipantau menggunakan drone. Pada Rabu (14/10/2026) pukul 10.00 WITA, petugas mendeteksi empat titik asap. Namun, jumlah tersebut bertambah menjadi tujuh titik saat pemantauan pukul 15.30 WITA.
Dari tujuh titik tersebut, lima berada di kawasan Wae Sellue dan dua lainnya di Batu Napara.
"Hasil pantauan drone sepanjang Rabu menunjukkan pergerakan titik asap terus bertambah, dari empat titik di pagi hari membengkak jadi tujuh titik saat sore," kata Abdul Rajab.
Menghadapi kondisi tersebut, sebanyak 37 personel gabungan dikerahkan untuk melokalisasi dan memadamkan api, terutama di titik-titik yang berpotensi mengancam permukiman warga.
Petugas berhasil memadamkan dua titik asap yang berada di tengah tebing karst menggunakan jet shooter atau alat pemadam bertekanan yang dioperasikan secara manual.
Salah satu titik kebakaran yang berhasil dipadamkan diketahui berjarak sekitar 500 meter dari permukiman warga.
"Tim berhasil memadamkan dua titik asap yang berada di tengah tebing karst secara manual menggunakan jet shooter. Salah satu titik api yang berhasil kita padamkan itu berjarak cukup dekat dengan permukiman warga, sekitar 500 meter," jelasnya.
Abdul Rajab menjelaskan, medan pegunungan karst yang terjal menjadi salah satu kendala utama dalam operasi pemadaman. Sejumlah titik api berada di puncak tebing dengan kemiringan ekstrem sehingga sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
Kondisi tersebut diperparah embusan angin kencang yang mengarah ke barat dan mempercepat perambatan api di kawasan perbukitan.
"Beberapa titik asap atau api memang tidak dapat dijangkau petugas karena berada pada puncak karst dengan ketinggian 79 sampai 601 Mdpl serta tebing terjal dengan kemiringan ekstrem mencapai 90 derajat," terangnya.
Selain medan yang sulit, keterbatasan sumber air di kawasan karst turut menghambat upaya pemadaman. Mesin pompa air tidak dapat dioperasikan secara optimal karena lokasi sumber air terlalu jauh dari titik kebakaran.
Akibatnya, petugas harus mengandalkan jet shooter yang diisi dan diangkut secara manual menuju lokasi api.
"Keterbatasan air jadi kendala utama. Mesin pompa tidak bisa dipakai karena sumber air terlalu jauh, jadi petugas terpaksa angkut jet shooter secara manual," ucapnya.
Dampak karhutla juga memicu munculnya kabut asap pekat yang mengganggu jarak pandang di sekitar kawasan kebakaran. Bahkan, lokasi timbulan asap diperkirakan berada di jalur lintasan penerbangan pesawat.
Selain berdampak terhadap kualitas udara, kebakaran tersebut mengancam keanekaragaman hayati di kawasan karst Maros-Pangkep. Vegetasi yang terbakar, termasuk rumpun bambu dan pohon jati, merupakan bagian dari habitat alami satwa liar.
Abdul Rajab mengatakan sejumlah satwa liar ditemukan terdampak akibat kebakaran yang meluas di kawasan taman nasional tersebut.
"Kabut asap semakin pekat dan mengganggu jarak pandang. Kebakaran ini juga berdampak langsung pada keanekaragaman hayati, beberapa satwa liar ditemukan terdampak akibat ruang hidupnya terbakar," pungkasnya.
Hingga Kamis (15/10/2026), upaya penanganan karhutla masih menjadi perhatian petugas, terutama untuk mengendalikan titik api yang sulit dijangkau serta mencegah kobaran meluas ke kawasan lain dan mendekati permukiman warga
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
