Keluarga Ungkap Komunikasi Terakhir TKI Asal Maros Sebelum Tewas di Armenia
MAROS, iNewsCelebes.id - Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Valenth Alexie Tamboto (24), diduga jadi korban pembunuhan di Republik Armenia seteralah tiga bulan jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Valenth diketahui, warga Kampung Boko, Desa Moncongloe Lappara, Kecamatan Moncongloe, ditemukan meninggal dunia di tempat tinggal yang disediakan perusahaan di Kota Yerevan, Armenia, pada Rabu (15/7/2026).
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan tangan, kaki, dan mulut terikat lakban.
Adik korban, Arnold Laurenc Tamboto, mengatakan dirinya masih sempat berkomunikasi dengan sang kakak melalui WhatsApp dan Telegram pada dini hari sebelum korban ditemukan meninggal.
"Jam 01.30 Wita saya masih komunikasi dengan kakak. Tidak ada cerita kalau dia punya masalah di tempat kerja. Dia hanya bilang ingin pulang ke Indonesia," kata Arnold. Selasa, (22/07/2026).
Menurut Arnold, kecurigaan bermula saat rekan kerja korban menyadari Valenth tidak keluar dari kamar meski sedang menjalani hari libur. Korban juga tidak merespons panggilan maupun ketukan pintu kamar.
Rekan-rekan korban kemudian mengambil kunci cadangan untuk membuka kamar. Saat itulah mereka menemukan Valenth sudah tidak bernyawa.
"Informasi yang kami terima, kakak saya ditemukan sudah dalam kondisi kaku di tempat tidur. Tangan dan kakinya terikat lakban, begitu juga bagian leher dan mulut," ujarnya.
Arnold mengaku keluarga memperoleh informasi dari sejumlah rekan kerja korban mengenai dugaan motif pembunuhan.
Menurut informasi yang diterimanya, korban diduga sempat diajak terlibat dalam penggelapan dana perusahaan, namun menolak.
"Dari informasi rekan kerjanya, ada dugaan beberapa orang ingin menggelapkan dana perusahaan dan kakak saya diajak ikut. Tapi kakak saya menolak. Ada kemungkinan itu menjadi motif, tetapi kami masih menunggu informasi resmi dari pihak berwenang," katanya.
Ia menegaskan informasi tersebut masih sebatas keterangan dari rekan kerja korban dan belum dapat dipastikan kebenarannya karena proses penyidikan masih berlangsung.
Arnold juga mengaku menerima informasi bahwa enam orang terduga pelaku telah diamankan, sementara satu orang lainnya diduga masih buron. Namun informasi tersebut juga belum dikonfirmasi secara resmi oleh aparat Armenia.
"Kami masih berupaya mendapatkan informasi resmi agar semua yang diterima keluarga benar-benar valid," ujarnya.
Hingga kini, keluarga mengaku masih kesulitan memperoleh informasi mengenai kondisi jenazah korban.
Menurut Arnold, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kyiv, Ukraina, yang menangani urusan diplomatik Indonesia di Armenia, masih berupaya memperoleh akses dari otoritas setempat.
"Kami sudah dibantu KBRI, tetapi sampai sekarang mereka juga belum bisa mendapat akses langsung menemui jenazah. Kami sangat berharap pemerintah membantu agar jenazah kakak kami bisa dipulangkan ke Indonesia," katanya.
Ia berharap keluarga dapat melihat korban untuk terakhir kalinya dan memakamkannya secara layak di kampung halaman.
"Kami juga berharap siapa pun pelakunya mendapat hukuman yang seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku," ucapnya.
Sementara itu, Bupati Maros Chaidir Syam memastikan Pemerintah Kabupaten Maros terus mendampingi keluarga korban dan berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) serta KBRI Kyiv.
"Kami sudah mengunjungi keluarga untuk memberikan semangat. Kementerian juga sudah berkomunikasi dengan KBRI Kyiv dan kami menunggu hasil investigasi dari otoritas Armenia," kata Chaidir.
Selain mendampingi keluarga, Pemkab Maros juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI).
“Update sampai sekarang sudah dilakukan tindak lanjut dari kementerian dan sudah melakukan komunikasi dengan KBRI Kyiv. Mudah-mudahan informasi dari KBRI bisa segera turun karena masih dalam tahap investigasi. Kementerian juga menyampaikan akan melaporkan perkembangan kepada kami,” jelasnya.
Kepala Desa Moncongloe Lappara, Sirajuddin, mengatakan Valenth merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Keluarganya telah menetap di desa tersebut sekitar empat hingga lima tahun terakhir.
Menurut Sirajuddin, korban baru sekitar tiga bulan bekerja di Armenia sebagai pekerja migran Indonesia di bidang pemasaran pada perusahaan konsultan teknologi informasi (IT). Sebelumnya, Valenth pernah bekerja di Filipina.
"Kalau informasi yang beredar memang diduga pembunuhan. Tapi kami masih menunggu informasi resmi dari pihak berwenang," ujarnya.
Disisi lain, Direktur Pelindungan WNI Kemlu Heni Hamidah mengatakan pemerintah Indonesia telah mengirimkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Armenia untuk memastikan terpenuhinya hak-hak kekonsuleran WNI.
"Untuk memastikan terpenuhinya hak-hak kekonsuleran WNI, pada 18 Juli 2026 KBRI Kyiv di Ukraina telah menyampaikan Nota Diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Armenia," kata Heni kepada wartawan pada Senin (20/7).
Heni mengatakan pengiriman nota diplomatik bertujuan memperoleh akses kekonsuleran dalam penanganan jenazah korban sekaligus bertemu dengan salah satu WNI yang sedang menjalani proses hukum di Armenia.
Kemlu menerima informasi mengenai kasus tersebut pada 16 Juli 2026. Setelah itu, KBRI Kyiv berkoordinasi dengan Konsul Kehormatan RI di Yerevan, aparat penegak hukum Armenia, dan komunitas WNI setempat untuk memverifikasi informasi.
Berdasarkan informasi awal dari aparat Armenia, sejumlah WNI yang diduga sebagai pelaku pembunuhan telah diamankan untuk kepentingan penyidikan.
Hingga kini, otoritas Armenia masih melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kematian Valenth Alexie Tamboto. Dugaan motif pembunuhan maupun keterlibatan sejumlah orang masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari aparat setempat.
Editor : Muhammad Nur