Ekspor Sulsel Ditopang Mate Nikel, Jepang dan China Dominasi Negara Tujuan
MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 mencatatkan surplus sebesar 65,68 juta dolar AS. Nilai tersebut berasal dari realisasi ekspor sebesar 139 juta dolar AS yang melampaui nilai impor sebesar 73,31 juta dolar AS.
Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), Alimuddin Lisaw, mengatakan komoditas mate nikel masih menjadi penyumbang terbesar ekspor Sulsel dengan nilai mencapai 400,6 juta dolar AS atau berkontribusi 50,1 persen terhadap total ekspor.
"Selain mate nikel, komoditas unggulan lainnya yang menopang ekspor Sulsel yakni rumput laut senilai 75,7 juta dolar AS, produk kakao 56,1 juta dolar AS, paduan fero 44,4 juta dolar AS, serta karaginan 38,9 juta dolar AS," kata Alimuddin kepada wartawan, Rabu (29/7/2026).
Meski neraca perdagangan masih mencatatkan surplus, Alimuddin mengungkapkan secara kumulatif nilai ekspor Sulawesi Selatan mengalami penurunan menjadi 0,81 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, nilai impor justru meningkat menjadi 0,51 miliar dolar AS.
Dari sisi impor, komoditas yang paling banyak masuk ke Sulawesi Selatan adalah bungkil kedelai senilai 86,2 juta dolar AS atau 16,8 persen dari total impor. Selanjutnya diikuti gandum sebesar 80,3 juta dolar AS, minyak petroleum 71,5 juta dolar AS, gula 53,1 juta dolar AS, serta perangkat teknis khusus 38,1 juta dolar AS.
"Jepang masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sulawesi Selatan dengan nilai mencapai 427,07 juta dolar AS, disusul China, Amerika Serikat, Taiwan, dan Malaysia. Sementara negara asal impor terbesar adalah China, diikuti Brasil, Singapura, Thailand, dan Australia," ungkapnya.
Di sektor fasilitas kepabeanan, Kanwil DJBC Sulbagsel mencatat terdapat 10 Kawasan Berikat dan satu perusahaan penerima fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) yang aktif beroperasi di Sulawesi Selatan.
Editor : Muhammad Nur