Namun Aldy melihatnya dari sudut berbeda. Menurutnya, pendekatan represif hanya menghasilkan kepatuhan sesaat, sementara edukasi membangun kesadaran jangka panjang.
Indikasi awal dari pendekatan ini mulai terlihat. Pelanggaran lalu lintas dinilai lebih terkendali, khususnya di titik-titik yang dijaga langsung oleh personel.
Lebih dari itu, Polres Gowa juga mengedepankan pendekatan berbasis data. Setiap laporan gangguan kamtibmas dianalisis secara menyeluruh—mulai dari waktu, lokasi, jenis kejahatan, hingga pola yang berulang.
Dari analisis tersebut, pola patroli disusun secara lebih presisi. Hasil evaluasi internal menunjukkan adanya pergeseran titik rawan, dengan penurunan intensitas gangguan di sejumlah wilayah yang diperkuat kehadiran polisi.
Meski belum dipublikasikan secara rinci, indikator kinerja internal memperlihatkan penanganan perkara yang lebih cepat serta distribusi kejadian yang lebih terkendali.
Di sisi lain, tantangan tetap membayangi. Setiap bulan, ratusan perkara masuk ke Polres Gowa, sementara jumlah penyidik hanya sekitar 40 orang.
Untuk menjawab ketimpangan ini, Aldy mengambil langkah tak biasa. Ia turun langsung membedah berkas perkara bersama anggotanya hampir setiap malam.
Langkah ini mempercepat identifikasi kendala penyidikan, mulai dari kekurangan alat bukti hingga hambatan administratif.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
