Dia mengingatkan pentingnya tenggang rasa di tengah situasi seperti ini. Menurutnya, tindakan membeli BBM secara berlebihan dapat mengurangi jatah masyarakat lain yang juga membutuhkan.
"Bukan berburuk sangka, tapi dalam kondisi seperti ini kita harus punya tenggang rasa. Jangan karena sekelompok orang hanya memikirkan dirinya, lalu mengurangi jatah orang lain," tegasnya.
Selain itu, Jufri juga mengungkap adanya dugaan praktik penimbunan BBM oleh oknum tertentu. Modus yang digunakan antara lain dengan memodifikasi tangki kendaraan, khususnya truk, lalu berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lain untuk mengisi bahan bakar dalam jumlah besar.
"Ada juga mobil truk yang dimodifikasi tangkinya, lalu keliling dari satu SPBU ke SPBU lain. Bahkan platnya diubah-ubah. Sekali isi bisa sampai 200 liter, kalau ke empat SPBU bisa 800 liter," jelasnya.
Menurutnya, praktik tersebut sudah masuk kategori penimbunan yang merugikan masyarakat luas. Ia pun meminta aparat penegak hukum (APH) untuk bertindak tegas.
"Itu sudah praktik penimbunan. Kita berharap aparat tegas, jangan ragu-ragu," katanya.
Jufri juga mengapresiasi langkah aparat kepolisian di lapangan yang berani menegur pengendara yang melakukan pembelian tidak wajar. Ia menilai tindakan tersebut penting untuk menjaga distribusi BBM tetap adil.
"Saya lihat di media sosial ada polisi yang menegur pengendara, itu harus kita dukung. Mereka melindungi kepentingan masyarakat banyak," ujarnya.
Selain BBM, pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi gangguan pasokan gas LPG 3 kilogram. Jufri menyinggung pengalaman di negara lain seperti India yang mengalami krisis energi, khususnya gas untuk memasak.
"Ini juga perlu diantisipasi. Kalau tiba-tiba LPG langka, masyarakat harus punya alternatif," katanya.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
