Program ini pun tidak berhenti di Makassar. Yayasan Butta Porea Indonesia berharap model serupa dapat direplikasi di berbagai lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Jika satu lapas mampu memproduksi dan memanfaatkan eco enzyme secara mandiri, maka dampaknya akan jauh lebih luas ketika gerakan ini diadopsi secara nasional.
Pada akhirnya, eco enzyme di Lapas Kelas I Makassar bukan hanya tentang cairan hasil fermentasi. Ia adalah simbol transformasi—bahwa dari ruang yang sering dipandang terbatas, justru lahir gagasan yang membebaskan.
Dari sampah menjadi solusi. Dari pembinaan menjadi pemberdayaan. Dan dari dalam lapas, tumbuh harapan baru tentang bagaimana manusia, lingkungan, dan masa depan bisa kembali dipertemukan dalam satu tujuan: hidup yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
