Oleh: Mashud Azikin
Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar
MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Di sebuah lorong di Jalan Sungai Cerekang, Kelurahan Gaddong, Kecamatan Bontoala, Makassar, siang itu tidak ada yang tampak luar biasa jika dilihat sepintas.
Lorong sempit, rumah-rumah berdempetan, dan riuh suara warga yang menjalani rutinitas harian. Namun, jika melangkah sedikit lebih dalam, ada sesuatu yang pelan-pelan sedang tumbuh sebuah ruang kecil bernama Ruang Pintar.
Di sanalah anak-anak duduk belajar, ibu-ibu berkumpul, dan para tokoh masyarakat berdiskusi tentang masa depan lingkungan mereka. Kunjungan bersama Fadly Padi siang tadi (Jum'at, 24 April 2026) menjadi lebih dari sekadar agenda. Ia menjelma menjadi pertemuan gagasan antara realitas lorong yang padat dengan harapan akan perubahan yang berkelanjutan.
Ruang Pintar yang diinisiasi oleh PNM hadir bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai ruang hidup. Ia lahir dari kesadaran sederhana: bahwa keterbatasan ruang tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi pertumbuhan. Di lorong inilah, pendidikan menemukan bentuknya yang paling jujur—dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam diskusi bersama Ketua RT/RW dan warga, Fadly Padi mengangkat gagasan yang terasa sangat kontekstual: menghubungkan program Ruang Pintar dengan gerakan Tanami Tanata’ serta kebijakan Wali Kota Makassar tentang pengolahan sampah terintegrasi dengan urban farming. Gagasan ini bukan sesuatu yang muluk, justru sebaliknya ia berangkat dari apa yang tersedia di depan mata.
Lorong, yang selama ini identik dengan keterbatasan, mulai dibayangkan sebagai ruang produksi: tempat belajar, tempat mengolah sampah, sekaligus tempat menanam.
Di sinilah perubahan cara pandang menjadi kunci. Sampah tidak lagi dilihat sebagai beban, tetapi sebagai bahan baku. Lahan sempit tidak lagi dianggap kekurangan, tetapi peluang.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
