Antrean BBM Mengular di Makassar, Warga Keluhkan Pertalite Langka

LeoMN
Pertalite Langka di Makassar, Ojol Terpaksa Beralih ke Pertamax. Foto: LeoMN

MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar terjadi di sejumlah SPBU di Kota Makassar dan beberapa wilayah Sulawesi Selatan dalam sepekan terakhir.

Kondisi tersebut membuat warga kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi. Sejumlah pengendara bahkan terpaksa beralih menggunakan Pertamax meski harus mengantre cukup panjang.

Bukan hanya di SPBU, antrean serupa juga terjadi di sejumlah Pertamini atau penjual BBM eceran, salah satunya di kawasan Jalan BTP, Kecamatan Tamalanrea, Makassar.

Seorang pengendara ojek online Muliati, mengaku harus merogoh kocek lebih dalam demi mengisi Pertamax agar tetap bisa beraktivitas.

"Setiap hari harus mengantre begini. Mau tidak mau beli Pertamax karena Pertalite habis, padahal harganya jauh lebih mahal. Kalau tidak beli, kami tidak bisa cari uang," Kata Muliati kepada wartawan di SPBU Jalan Cenderawasih, Makassar, Kamis (10/9/2026).

Hal yang sama dikeluhkan oleh warga Mariso bernama Herman, sulitnya mendapatkan BBM membuat sejumlah aktifitasnya terganggu. Bahkan lebih banyak dihabiskan mengantre di SPBU.

"Sekarang pak lebih lama kita mengantre di SPBU, pekerjaan jadinya kita tunda-tunda karena mau bergerak juga kita pikir BBM kendaraan nanti habis, antriki lagi panjang," keluh Herman. 

Selain Pertalite, antrean kendaraan yang membutuhkan Solar juga telah menjadi pemandangan di sejumlah SPBU Makassar dalam beberapa bulan terakhir. Panjangnya antrean bahkan berpotensi mengganggu kelancaran arus lalu lintas di sekitar SPBU.

Menanggapi kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan stok dan pasokan BBM di Sulawesi Selatan dalam kondisi aman serta terus didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Deny Sukendar, mengatakan peningkatan antrean tidak terlepas dari naiknya aktivitas logistik, transportasi, dan mobilitas masyarakat.

Data internal Pertamina mencatat konsumsi harian Solar JBT pada Agustus 2026 meningkat 14,6 persen dibandingkan Mei 2026.

"Stok BBM kami pastikan aman dan distribusi terus berjalan. Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Belilah BBM secukupnya sesuai kebutuhan," ujar Deny dalam keterangan resminya, Kamis (10/9/2026).

Untuk mengantisipasi peningkatan permintaan, Pertamina melakukan penyesuaian penyaluran BBM di Sulawesi Selatan. Penyaluran Solar JBT ditingkatkan 14,6 persen, sedangkan Pertalite ditambah 7,6 persen.

Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan konsumsi, kondisi stok, serta kebutuhan di masing-masing wilayah.

"Permintaan memang mengalami peningkatan, terutama pada beberapa jenis BBM dan wilayah tertentu. Namun dari sisi ketersediaan, kami memastikan pasokan tetap berjalan dan mencukupi," jelas Deny.

Pertamina juga memperkuat distribusi dengan menyesuaikan jam operasional depot dan mempercepat aktivitas suplai dari titik distribusi. Armada mobil tangki dioptimalkan melalui skema spot charter untuk mempercepat pengiriman ke SPBU yang membutuhkan tambahan pasokan.

Pada SPBU dengan tingkat kebutuhan tinggi, tambahan suplai dapat diberikan hingga 15 persen dari kondisi normal. Pemantauan terhadap stok, konsumsi, dan antrean dilakukan secara berkala untuk menentukan kebutuhan tambahan pasokan.

Selain BBM, Pertamina juga memperkuat distribusi LPG 3 kilogram dengan melakukan extra dropping hingga 130 persen dari rata-rata penyaluran harian di Sulawesi Selatan.

Sejumlah SPBU yang mengalami peningkatan permintaan dan antrean juga akan dioperasikan selama 24 jam.

"SPBU yang ditetapkan akan beroperasi 24 jam untuk melayani masyarakat. Kami terus menjaga distribusi agar pasokan BBM tetap tersedia dan pelayanan dapat berjalan dengan baik," kata Deny.

Di tengah kondisi tersebut, Pertamina juga memperketat pengawasan penyaluran BBM bersubsidi. Monitoring dilakukan terhadap stok, pergerakan antrean, hingga pola transaksi di SPBU.

Transaksi yang terindikasi tidak wajar, termasuk pembelian berulang atau dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi, turut dievaluasi untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan.

Pertamina juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum guna memastikan BBM bersubsidi disalurkan tepat sasaran.

Sebelumnya, Pertamina telah memblokir 6.023 QR Code Subsidi Tepat yang terindikasi melakukan pengisian berulang atau transaksi tidak wajar.

Pertamina kembali mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan maupun menyimpan BBM dalam jumlah besar.

"Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Stok BBM aman, distribusi terus kami jaga, dan SPBU akan terus melayani kebutuhan masyarakat," tegas Deny.

Masyarakat juga diminta mengikuti informasi melalui kanal resmi Pertamina serta mematuhi arahan petugas SPBU.

Untuk informasi maupun laporan terkait pelayanan dan ketersediaan BBM serta LPG, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Customer Solution (PCS) 135.

"Fokus kami adalah memastikan stok tetap aman, distribusi berjalan lancar, pengawasan terus diperkuat, dan masyarakat dapat terlayani dengan baik," pungkasnya.

Editor : Muhammad Nur

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network