MAKASSAR, iNewsCelebes.id – Di tengah rutinitasnya sebagai santri dan siswa kelas 12, Muhammad Al Hindawi justru mengasah kemampuan di dunia digital. Hanya bermodal belajar secara otodidak selama sekitar empat hingga lima bulan, ia berhasil menemukan celah keamanan kritis pada sistem milik NASA dan University of Melbourne.
Al Hindawi, santri Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, menemukan celah keamanan (critical vulnerability) berjenis SQL Injection pada sistem Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) serta University of Melbourne, Australia.
Temuan tersebut tidak dilakukan melalui akses ilegal, melainkan dilaporkan melalui jalur resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) pada platform Bugcrowd.
Laporan yang dikirim Al Hindawi kemudian mendapatkan validasi dari tim keamanan siber kedua institusi tersebut.
"Saat melakukan pemetaan (recon), awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx. Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL injection," ujar Al Hindawi menjelaskan proses awal penelusurannya, Selasa (15/9/2026).
Menariknya, cucu ulama kharismatik Sulawesi Selatan, AGH Huzaifah tersebut baru sekitar empat hingga lima bulan mendalami cybersecurity. Ia belajar secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai tutorial di YouTube dan membaca laporan riset keamanan siber yang dipublikasikan para peneliti lain di Bugcrowd.
Dari proses belajar tersebut, Al Hindawi berhasil menemukan tiga celah keamanan kritis. Dua celah berada pada sistem NASA, sedangkan satu celah lainnya ditemukan pada sistem University of Melbourne.
Atas kontribusinya dalam mengidentifikasi kerentanan sistem, NASA memberikan Letter of Recognition (LOR) kepada Al Hindawi.
Sementara dari University of Melbourne, temuan tersebut juga mendapatkan konfirmasi validasi resmi dari tim Cyber Operations.
Sebelum menemukan celah pada sistem institusi berskala internasional, Al Hindawi lebih dulu menguji kemampuannya pada lingkungan yang dekat dengannya.
Ia pernah menemukan celah keamanan pada sistem milik Pondok Pesantren Al Imam Ashim, tempatnya menimba ilmu.
Bagi Al Hindawi, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan belajar cybersecurity. Ia memanfaatkan sumber-sumber terbuka di internet untuk memahami cara menemukan dan melaporkan kerentanan secara bertanggung jawab.
Kisah santri kelas 12 ini menunjukkan bagaimana kemampuan di bidang teknologi dapat dikembangkan secara mandiri. Dari lingkungan pesantren di Makassar, Al Hindawi mampu berkontribusi dalam program pengungkapan kerentanan yang dijalankan institusi berskala global.
Temuan tersebut sekaligus menjadi catatan bahwa latar belakang pendidikan formal di bidang teknologi informasi bukan satu-satunya jalan untuk mempelajari cybersecurity, selama proses belajar dilakukan secara serius dan melalui mekanisme pengujian serta pelaporan yang resmi.
Editor : Muhammad Nur
Artikel Terkait
