Kasus ISPA di Sulsel Meningkat, Tembus 70 Ribu hingga September 2026

LeoMN
Kasus ISPA di Sulsel alami peningkatan hingga september 2026. Foto: LeoMN

MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat 70.329 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang 2026. Pemprov Sulsel memberikan atensi pada kualitas udara akibat asap Karhutla.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sulsel, Muhammad Yusri Yunus mengatakan jumlah kasus ISPA di Sulsel berdasarkan data aplikasi nasional dikatakan mengalami peningkatan.

“Angka saat ini sudah berada di angka 70.329 per September. Sehingga ini sedikit ada memang ada sedikit peningkatan terhadap kasus ISPA yang terjadi pada bulan September ini,” ujar Muhammad Yusri Yunus kepada wartawan pada Senin, (19/10/2026). 

Yusri menjelaskan, berdasarkan data yang disampaikan, belum terdapat laporan kematian maupun peningkatan tingkat keparahan yang signifikan akibat kenaikan kasus tersebut.

"Tidak ada yang menyebabkan kematian atau meningkatkan kasus kepada tingkat keparahan yang cukup tinggi karena kesiapsiagaan Paskes dan teman-teman Nakes yang ada di pemerintah provinsi Sulawesi Selatan baik di tingkat puskesmas maupun di tingkat fasilitas kesehatan rujukan itu sendiri," jelasnya.

Menurut Yusri, di tengah peningkatan tersebut, Pemprov Sulsel telah mengeluarkan surat edaran sebagai langkah antisipasi terhadap dampak penurunan kualitas udara akibat asap Karhutla.

"Saat ini kita di Provinsi Sulawesi Selatan menghadapi situasi dimana terjadi peningkatan konsentrasi udara yang sangat tinggi dengan angka 2,5 sehingga BMKG telah mengeluarkan peringatan kepada kita semuanya bahwa bahwa kondisi udara kita saat ini dalam kondisi sedang atau kondisi tidak sehat," katanya.

Menurut Yusri, sebagai langka pencegahan. Pihaknya telah menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan untuk menangani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara.

Tak hanya itu, masyarakat juga diminta melakukan langkah pencegahan, terutama bagi kelompok yang rentan mengalami gangguan pernapasan.

"Kami ingatkan bahwa untuk pada bayi balita, lansia, ibu hamil, juga kami menghimbau agar senantiasa melakukan upaya-upaya pencegahan melalui dengan menggunakan masker atau tidak keluar bila tidak ada kepentingan yang sangat penting atau yang urgen," imbuhnya.

Menurutnya, kondisi saat ini sangat rentan terpapar karena akibat polutan atau partikel utara yang sangat halus. "Polusi udara ini Ini sangat terentang untuk diserang terutama bagi bayi balita dan lansia ini dan ibu hamil yang memang daya tahan tubuhnya belum matang atau belum maksimal," katanya.

Sementara itu, dokter spesialis paru Rumah Sakit Labuang Baji Makassar, dr. Muhammad Fajar, menyebut kunjungan pasien dengan keluhan gangguan pernapasan meningkat, baik di instalasi gawat darurat (IGD) maupun poliklinik rawat jalan.

Namun, pihaknya belum memiliki data pasti mengenai besaran peningkatan kunjungan tersebut karena kondisi itu baru terpantau dalam beberapa hari terakhir.

“Pasien-pasien yang mengalami infeksi saluran napas mengalami peningkatan. Namun untuk angkanya belum ada data yang pasti karena baru beberapa hari ini kejadiannya," kata dr. Muhammad Fajar.

Ia menjelaskan, keluhan yang kerap ditemukan antara lain sesak napas, terutama pada pasien yang memiliki riwayat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan asma. Paparan asap dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan sehingga memperburuk kondisi pasien dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya.

"Jadi pasien-pasien ini cenderung berulang karena paparan asap, jadi memicu inflamasi di saluran nafasnya sehingga lebih mudah terkena kembali penyakit tersebut. Tapi cepat tertangani saja, tidak ada yang tinggal lama atau serius gitu," jelasnya.

Selain penderita penyakit paru, kelompok rentan terhadap paparan asap meliputi bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang sering beraktivitas di luar ruangan, seperti pengemudi ojek daring dan pekerja lapangan.

Untuk mengurangi risiko paparan partikel polutan, Fajar menyarankan masyarakat menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus. 

"Jadi masker yang disarankan yaitu KN95 atau KF94. Tapi, kalaupun masker tersebut agak susah didapatkan, bisa menggunakan masker yang biasa daripada tidak sama sekali menggunakan masker," pungkasnya.

 

Editor : Arham Hamid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network