Kartini Hari Ini: Mengolah Sampah, Menanam Masa Depan
Mashud Azikin
Pemerhati Persampahan Kota Makassar, Pegiat Ecoenzym
MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Setiap 21 April, kita menyebut nama Kartini dengan penuh hormat. Kita mengenangnya sebagai simbol emansipasi, keberanian, dan harapan bagi perempuan Indonesia.
Namun, pertanyaan yang sering luput kita ajukan adalah: di mana Kartini hari ini hidup? Apakah ia hanya tinggal dalam buku sejarah, atau justru hadir di tengah kehidupan sehari-hari kita diam-diam bekerja, tanpa banyak sorotan?
Di Kota Makassar, Kartini tidak berdiri di podium. Ia tidak selalu berbicara dalam forum resmi. Ia justru hadir di tempat yang paling dekat dengan kehidupan: di dapur rumah tangga, di halaman sempit yang ditanami sayur, di ember-ember fermentasi eco enzyme, dan di sudut-sudut rumah tempat sampah mulai dipilah.
Di sanalah Kartini bekerja hari ini. Kita sering membicarakan pembangunan kota dalam bahasa yang besar: infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Semua itu penting.
Namun ada satu persoalan mendasar yang sering kali menentukan wajah kota: bagaimana kita mengelola sampah. Kota yang maju bukan hanya yang jalannya lebar, tetapi yang lingkungannya bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Pemerintah Kota Makassar telah mendorong program pengolahan sampah terintegrasi dan pengembangan urban farming sebagai bagian dari solusi. Program ini bukan sekadar teknis, tetapi menyangkut perubahan cara hidup. Dan perubahan seperti ini tidak bisa hanya mengandalkan aturan. Ia membutuhkan kebiasaan baru yang tumbuh dari rumah.
Di titik inilah, perempuan memegang peran penting. Dari rumah tangga, semua bermula. Perempuan terutama ibu menjadi manajer pertama dalam urusan sampah. Ia yang menentukan apakah sampah dipilah atau dicampur. Ia yang mengajarkan anak-anak tentang kebiasaan kecil: membuang sampah pada tempatnya, memisahkan sisa makanan, atau memanfaatkan kembali barang bekas.
Editor : Muhammad Nur