Kisah Pilu di Balik Sungai Palakai Maros Berakhir, Kini Berdiri Jembatan Perintis Garuda Merah Putih
MAROS, iNewsCelebes.id – Kisah warga Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang selama puluhan tahun tidak memiliki jembatan dan harus menyeberangi sungai menggunakan gondola sederhana akhirnya berakhir bahagia.
Warga kini dapat menikmati jembatan baru yang dibangun melalui Program Jembatan Perintis Garuda Merah Putih setelah sebelumnya, warga harus menyeberangi sungai selebar sekitar 100 meter untuk beraktivitas sehari-hari.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah juga harus bergantung pada tali seling dan menarik gondola secara manual untuk mencapai sekolah maupun pusat aktivitas ekonomi.
Kondisi tersebut sempat viral dan menyita perhatian publik karena tingginya risiko yang harus dihadapi warga setiap hari. Saat musim hujan, arus sungai yang deras membuat aktivitas penyeberangan semakin berbahaya.
Kini, kondisi itu berubah setelah dibangunnya jembatan yang menghubungkan Desa Bonto Manurung dan Desa Bontomatinggi. Jembatan berbahan besi, papan, dan tali seling tersebut dibangun selama empat bulan dengan melibatkan puluhan prajurit TNI Angkatan Darat.
Menurut salah satu warga, Jamilah, sebelum ada jembatan maupun gondola, sebagian warga bahkan harus berenang menyeberangi sungai. Saat debit air meningkat, anak-anak sering tidak bisa bersekolah dan warga gagal membawa hasil pertanian ke pasar.
"Kalau air besar, anak-anak libur sekolah dan warga tidak bisa ke pasar. Semua hasil bumi seperti gula merah dan hasil pertanian lewat jalur ini," katanya.
Sementara itu, Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko mengatakan pembangunan jembatan tersebut merupakan upaya menjawab kesulitan masyarakat yang selama puluhan tahun mengalami keterbatasan akses transportasi.
"Hari ini pemerintah bersama TNI hadir untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Jembatan ini sangat vital karena memberikan manfaat bagi sekitar 1.623 warga dari dua desa yang selama puluhan tahun belum memiliki akses yang mudah," ujar Bangun Nawoko.
Ia menjelaskan, sebelum jembatan dibangun, warga harus menyeberangi sungai secara langsung saat musim kemarau, sementara pada musim hujan mereka bergantung pada gondola yang ditarik menggunakan tali seling.
berharap jembatan tersebut dapat dirawat bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang, terutama untuk mendukung akses pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat.
Kini, anak-anak dapat berangkat ke sekolah tanpa rasa khawatir. Sementara petani dan pedagang lebih mudah mengangkut hasil bumi mereka ke pasar.
Jembatan yang selama ini hanya menjadi harapan akhirnya berdiri kokoh dan menjadi simbol berakhirnya penantian panjang warga Desa Bonto Manurung dan Desa Bontomatinggi.
Editor : Muhammad Nur