get app
inews
Aa Text
Read Next : TKI Asal Maros Ditemukan Tewas Mengenaskan di Armenia, Diduga Korban Pembunuhan

Keluarga Ungkap Komunikasi Terakhir TKI Asal Maros Sebelum Tewas di Armenia

Rabu, 22 Juli 2026 | 15:45 WIB
header img
Keluarga Ungkap Komunikasi Terakhir TKI Asal Maros Sebelum Tewas di Armenia. Foto: Wahyu Ruslan

Ia menegaskan informasi tersebut masih sebatas keterangan dari rekan kerja korban dan belum dapat dipastikan kebenarannya karena proses penyidikan masih berlangsung.

Arnold juga mengaku menerima informasi bahwa enam orang terduga pelaku telah diamankan, sementara satu orang lainnya diduga masih buron. Namun informasi tersebut juga belum dikonfirmasi secara resmi oleh aparat Armenia.

"Kami masih berupaya mendapatkan informasi resmi agar semua yang diterima keluarga benar-benar valid," ujarnya.

Hingga kini, keluarga mengaku masih kesulitan memperoleh informasi mengenai kondisi jenazah korban.

Menurut Arnold, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kyiv, Ukraina, yang menangani urusan diplomatik Indonesia di Armenia, masih berupaya memperoleh akses dari otoritas setempat.

"Kami sudah dibantu KBRI, tetapi sampai sekarang mereka juga belum bisa mendapat akses langsung menemui jenazah. Kami sangat berharap pemerintah membantu agar jenazah kakak kami bisa dipulangkan ke Indonesia," katanya.

Ia berharap keluarga dapat melihat korban untuk terakhir kalinya dan memakamkannya secara layak di kampung halaman.

"Kami juga berharap siapa pun pelakunya mendapat hukuman yang seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku," ucapnya.

Sementara itu, Bupati Maros Chaidir Syam memastikan Pemerintah Kabupaten Maros terus mendampingi keluarga korban dan berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) serta KBRI Kyiv.

"Kami sudah mengunjungi keluarga untuk memberikan semangat. Kementerian juga sudah berkomunikasi dengan KBRI Kyiv dan kami menunggu hasil investigasi dari otoritas Armenia," kata Chaidir.

Selain mendampingi keluarga, Pemkab Maros juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI).

“Update sampai sekarang sudah dilakukan tindak lanjut dari kementerian dan sudah melakukan komunikasi dengan KBRI Kyiv. Mudah-mudahan informasi dari KBRI bisa segera turun karena masih dalam tahap investigasi. Kementerian juga menyampaikan akan melaporkan perkembangan kepada kami,” jelasnya.

Kepala Desa Moncongloe Lappara, Sirajuddin, mengatakan Valenth merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Keluarganya telah menetap di desa tersebut sekitar empat hingga lima tahun terakhir.

Menurut Sirajuddin, korban baru sekitar tiga bulan bekerja di Armenia sebagai pekerja migran Indonesia di bidang pemasaran pada perusahaan konsultan teknologi informasi (IT). Sebelumnya, Valenth pernah bekerja di Filipina.

"Kalau informasi yang beredar memang diduga pembunuhan. Tapi kami masih menunggu informasi resmi dari pihak berwenang," ujarnya.

Editor : Muhammad Nur

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut