get app
inews
Aa Text
Read Next : Korban Kedua Pesawat ATR 42-500 Ditemukan Berjenis Kelamin Perempuan

Viral Menu MBG Nasi Diganti Kentang, Ahli Gizi Nilai Porsi Harus Setara Standar Energi Anak

Kamis, 12 Februari 2026 | 19:31 WIB
header img
SPPG Mappasaile, Pangkep menuai sorotan usai ganti nasi jadi kentang dalam menu MBG yang dibagikan ke siswa. Foto: Udin Syahrudin

PANGKEP, iNewsCelebes.id – Polemik penggantian nasi dengan kentang dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mappasaile, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus bergulir. Publik mempertanyakan apakah porsi kentang yang disajikan sudah setara dengan standar kebutuhan energi anak.

Ketua Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI) Sulawesi Selatan, Manji Lala, menegaskan secara prinsip gizi, nasi bisa diganti dengan kentang karena sama-sama sumber karbohidrat.

“Secara konsep tidak masalah. Kentang itu sumber karbohidrat yang baik. Yang penting porsinya tepat dan tetap seimbang dengan lauk, sayur, dan buah,” ujarnya, Kamis (12/2/2026) sore.

Namun, ketika diminta menanggapi secara lebih spesifik kasus di Pangkep, Manji menilai porsi kentang yang terlihat dalam foto viral kemungkinan belum setara dengan standar nasi untuk anak usia TK hingga kelas awal SD.

“Kalau kita lihat panduan Kementerian Kesehatan yang saya bagikan juga, 100 gram nasi itu setara dengan dua kentang ukuran sedang. Nah, kalau melihat gambar yang beredar, sepertinya kurang dari dua kentang ukuran sedang,” kata dia.

Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2017 terbitan Kementerian Kesehatan RI, 100 gram nasi mengandung sekitar 180 kilokalori energi dan 39,8 gram karbohidrat. Sementara 100 gram kentang mengandung 62 kilokalori energi dan 13,5 gram karbohidrat.

Manji menjelaskan, jika standar porsi untuk anak TK hingga SD kelas awal berkisar 100–150 gram nasi, maka kentang penggantinya harus disesuaikan.

“Kalau memang acuannya 100 gram nasi, berarti harus sekitar dua kentang ukuran sedang. Kalau kurang dari itu, berarti kurang kentangnya untuk mencukupi perbandingan tersebut,” ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan penilaian pasti harus berdasarkan penghitungan berat dalam gram, bukan hanya tampilan visual.

“Untuk memastikan cukup atau tidak, harus dihitung gramnya secara detail. Tapi kalau spesifik melihat kentangnya saja, menurut saya sepertinya kurang,” katanya.

Manji menyarankan agar seluruh penyelenggara MBG tetap berpegang pada buku Standar Gizi dan Makanan Program MBG yang diterbitkan Kementerian Kesehatan.

“Di pedoman itu sudah sangat rinci. Nasi bisa diganti kentang, bisa diganti ubi, dan jumlahnya juga sudah ada. Jadi kalau mau bikin patokan, gunakan itu saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, penggunaan kentang atau sumber karbohidrat lain sebenarnya layak, hanya saja faktor kebiasaan menjadi tantangan tersendiri, terutama di Sulawesi Selatan yang masyarakatnya terbiasa menjadikan nasi sebagai makanan pokok.

“Anak-anak memang belum terbiasa. Maunya nasi. Tapi ini langkah awal yang bagus kalau memang mau pembiasaan. Tinggal mungkin ke depan dilakukan bertahap, bisa jadi porsinya perlu ditingkatkan kalau memang mau menggunakan kentang,” tutur Manji.


Menurut dia, perubahan menu bukan sekadar soal substitusi bahan, tetapi juga soal ketepatan takaran dan strategi pembiasaan agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi tanpa menimbulkan polemik baru.

Editor : Muhammad Nur

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut