Perubahan Lingkungan Digaungkan dari Lorong-lorong kecil, Antara Biopori dan Eco-Enzime
Sementara itu, eco-enzyme menawarkan narasi yang tak kalah menarik. Dari kulit buah dan sayuran yang dianggap limbah, lahir cairan serbaguna yang bisa membersihkan, menyuburkan, bahkan menyembuhkan lingkungan.
Ia seperti metafora sederhana tentang kehidupan: bahwa sesuatu yang terbuang pun masih menyimpan daya guna, asal kita cukup sabar untuk mengolahnya.
Namun yang paling menarik dari kegiatan ini bukanlah teknologi sederhana itu sendiri. Bukan pula metode yang sebenarnya sudah lama dikenal. Yang paling penting adalah keberanian untuk memulai dari hal kecil, dari lingkup yang paling dekat: rumah.
Di tengah diskursus besar tentang krisis lingkungan, perubahan iklim, dan kota berkelanjutan, kita sering terjebak dalam skala yang terlalu luas. Kita menunggu kebijakan besar, proyek besar, atau intervensi besar.
Padahal, seperti yang ditunjukkan warga Paccerakkang, perubahan justru sering lahir dari ruang-ruang kecil yang konsisten.
Momen makan bersama dalam kegiatan itu menjadi simbol yang nyaris puitis. Di sana, kebersamaan tidak berhenti pada meja makan.
Ia berlanjut hingga ke lubang biopori, ketika sisa makanan tidak dibuang, melainkan “dikembalikan” ke bumi. Sebuah siklus yang utuh: dari tanah, ke meja, lalu kembali ke tanah.
Ada kesadaran baru yang tumbuh pelan-pelan. Bahwa menjaga lingkungan bukanlah sesuatu yang jauh, bukan pula sesuatu yang eksklusif bagi aktivis atau pemerintah.
Ia adalah tindakan sehari-hari yang bisa dimulai dari dapur sendiri.
Ketua RT mungkin tidak berbicara dengan istilah-istilah besar seperti “ekonomi sirkular” atau “resiliensi lingkungan”.
Namun harapannya sederhana dan justru karena itu menjadi kuat: agar warga terbiasa memilah dan mengolah sampahnya sendiri. Sebuah harapan yang, jika direplikasi, bisa mengubah wajah kota.
Makassar, seperti banyak kota lain, menghadapi persoalan klasik: volume sampah yang terus meningkat, sementara ruang untuk menampungnya semakin terbatas. Dalam situasi seperti ini, solusi tidak bisa lagi hanya bertumpu pada hilir. TPA bukanlah jawaban, melainkan konsekuensi.
Editor : Muhammad Nur