Semarak Piala Dunia 2026, Warga Jalan Titang Makassar Kibarkan Bendera Negara Jagoan
MAKASSAR, iNewsCelebes.id – Semarak Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tak hanya terasa di negara-negara peserta. Atmosfer pesta sepak bola dunia juga hadir di Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Puluhan bendera negara peserta Piala Dunia tampak berkibar di sepanjang jalan kawasan tersebut. Aneka warna bendera menghiasi sisi jalan, menciptakan suasana meriah yang menarik perhatian warga maupun pengguna jalan yang melintas.
Kawasan ini memang dikenal luas oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Kampung Bola Piala Dunia.
Salah satu warga setempat, Andi Parawansa, mengungkapkan bahwa aksi menghias kampung ini bukanlah hal baru, melainkan tradisi yang sudah mengakar sejak puluhan tahun lalu.
"Ini tradisi pasang bendera dimulai sejak 1994, tahun itu sudah semarak begini," kata Andi Parawansa kepada wartawan, Sabtu, (13/06/2026).
Setiap empat tahun sekali, warga secara swadaya memasang bendera negara favorit masing-masing sebagai bentuk dukungan kepada tim jagoan mereka yang berlaga di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia.
Hebatnya, seluruh atribut ini disiapkan secara mandiri tanpa bantuan pihak luar.
"Ini murni antuasias warga, biayanya, bambunya dan benderanya itu masing-masing," katanya.
Menariknya, semarak Piala Dunia di Jalan Titang tidak hanya datang dari kalangan pria. Perempuan hingga anak-anak juga ikut terlibat aktif dalam memasang bendera dan menghias lingkungan mereka.
Perbedaan tim jagoan dalam satu keluarga justru menambah keunikan kampung ini.
"Jadi jangan heran kalau dalam satu rumah ada 4 bendera karena bisa jadi bapaknya Jerman, bapaknya Belanda anaknya Argentina, satunya brasil di satu rumah itu," tuturnya.
Selain kemeriahan warna-warni, ada pula tradisi unik yang terus dipertahankan warga selama turnamen berlangsung.
Layaknya sebuah masa berkabung, bendera negara yang tersingkir dari persaingan akan diturunkan menjadi setengah tiang. Hal ini menjadi simbol visual bahwa perjuangan tim tersebut telah berakhir di Piala Dunia.
"Kebiasaan kita kalau kalah sama sekali tidak bisa main kita kibarkan setengah tiang supaya memperjelas bendera dan negara ini sudah tidak masuk ke putaran selanjutnya, setengah tiang," jelasnya.
Andi Parawansa menyatakan kecintaan yang mendalam terhadap sepak bola menjadi alasan utama mengapa warga tetap konsisten mempertahankan tradisi tersebut hingga sekarang.
Tak hanya mengibarkan bendera negara favorit, warga juga rutin menggelar nonton bareng (nobar) di pos ronda maupun titik kumpul warga untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia bersama-sama. Momen itu menjadi ajang mempererat kebersamaan sekaligus menambah kemeriahan turnamen.
"Kita juga biasa nobar di pos, khususnya pertandingan seru, negara favorite yang bertanding," ungkapnya.
Bagi warga Jalan Titang, Piala Dunia bukan sekadar tontonan olahraga atau hiburan empat tahunan. Di balik lautan bendera asing yang menghiasi kampung mereka, tersimpan sebuah asa dan harapan yang sangat besar agar suatu hari nanti Tim Nasional Indonesia mampu menembus putaran final Piala Dunia.
"Jujur yang ingin dikatakan warga ini, kapan sih Indonesia bisa masuk piala dunia, Indonesia saja tidak masuk kita heboh begini, apalagi kalau masuk piala dunia," pungkasnya.
Editor : Muhammad Nur