get app
inews
Aa Text
Read Next : Kebakaran Hebat Melanda Permukiman Padat di Jalan Kandea Makassar

Jelang Muktamar NU, Gus Rozin Gaungkan Penguatan Pesantren dan Kemandirian Jam’iyah di Makassar

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:15 WIB
header img
Gus Rozin Serap Aspirasi NU se-Sulawesi Jelang Muktamar di Makassar. Foto: LeoMN

MAKASSAR, iNewsCelebes.id – Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menegaskan pentingnya memperkuat NU sebagai masyarakat sipil keagamaan yang mandiri, kritis, dan tetap berakar pada kekuatan jamaah. Menurutnya, NU harus mampu berjalan berdampingan dengan pemerintah tanpa kehilangan fungsi kontrol dan daya kritisnya.

Hal itu disampaikan Gus Rozin saat bersilaturahmi dengan jajaran PWNU dan PCNU dari tiga wilayah di Sulawesi di Hotel Gammata, Kota Makassar, Sulawesi selatan pada Jum'at. (07/08/2026). PWNU Sulawesi Selatan menjadi tuan rumah dalam membuka ruang dialog mengenai arah perjuangan NU memasuki abad kedua sekaligus menyerap gagasan dan aspirasi dari pengurus NU di tingkat wilayah dan cabang.

Dr. KH. La Ode Arumahi, SH., MH mewakili PWNU Sulawesi Selatan menyampaikan kegembiraannya atas kedatangan Gus Rozin beserta rombongan. Menurutnya, hal terpenting dari pertemuan tersebut adalah terbangunnya interaksi antara Gus Rozin dan para pengurus NU yang berbasis pada gagasan konstruktif bagi jam'iyyah sekaligus merumuskan arah perjuangan NU menjelang Muktamar.

Sementara Gus Rozin menjelaskan perjalanan pengabdiannya di lingkungan NU yang dimulai dari struktur RMI PWNU Jawa Tengah setelah Muktamar PBNU 2010 di Makassar hingga saat ini dipercaya memimpin PWNU Jawa Tengah.

Pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, tersebut mengatakan pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU berangkat dari keinginan untuk mempertemukan berbagai pandangan di lingkungan NU. Menurutnya, perbedaan pendapat di antara para kiai dan pengurus merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus dikelola secara bijaksana agar tidak berkembang menjadi polarisasi berkepanjangan.

“Perbedaan pendapat di antara para kiai dan pengurus merupakan dinamika organisasi. Karena itu, kita perlu mencari jalan yang dapat mempertemukan berbagai pandangan agar ukhuwah Nahdliyah tetap terjaga,” ujar Gus Rozin.

Ia menawarkan gagasan poros tengah sebagai salah satu ikhtiar untuk meredam polarisasi di tingkat elite NU dan memperkuat kembali persatuan organisasi.

Menurut Ketua RMI PBNU periode 2015–2021 tersebut, pilihan itu memiliki konsekuensi bahwa gerakan yang dibangunnya tidak harus menjadi yang paling awal dalam kontestasi. Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan proses menuju Muktamar tetap mengedepankan kepentingan jam'iyyah.

“Langkah poros tengah ini untuk meredam polarisasi di tingkat elite NU agar tercipta islah dan eratnya kembali ukhuwah Nahdliyah,” tegas Gus Rozin.

Editor : Arham Hamid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut