Jelang Muktamar NU, Gus Rozin Gaungkan Penguatan Pesantren dan Kemandirian Jam’iyah di Makassar
Gagasan tersebut mendapat respons dari para pengurus cabang yang hadir dalam forum. Rais Syuriah PCNU Kabupaten Wajo menanyakan strategi Gus Rozin dalam membangun kemandirian ekonomi NU sekaligus menjaga soliditas ukhuwah Nahdliyah. Pertanyaan tersebut memperlihatkan perhatian pengurus cabang terhadap bagaimana kekuatan jamaah dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan ekonomi dan organisasi.
Sementara itu, Tanfidziyah PCNU Kabupaten Sinjai menyampaikan harapan agar apabila Gus Rozin mendapat amanah memimpin PBNU, arah program organisasi benar-benar dibangun secara bottom-up, dari kebutuhan jam'iyyah dan jamaah di tingkat bawah. Menurutnya, masih terdapat MWCNU dan PCNU yang belum memiliki sekretariat sehingga membutuhkan perhatian dan penguatan dari struktur organisasi di atasnya.
Masukan lain disampaikan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Bone. Ia menyampaikan sejumlah persoalan terkait tata kelola organisasi, antara lain penerbitan SK PCNU, kemudahan proses kaderisasi, serta kebutuhan digitalisasi administrasi organisasi. Ia juga berharap proses suksesi kepengurusan NU di berbagai tingkatan dapat berlangsung lebih sejuk. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah agar Tanfidziyah juga dipilih melalui mekanisme yang melibatkan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Berbagai aspirasi tersebut memperlihatkan bahwa gagasan tentang penguatan masyarakat sipil, kemandirian jamaah, pesantren, kaderisasi, dan pembenahan tata kelola organisasi menjadi perhatian para pengurus NU di kawasan Sulawesi.
Bagi Gus Rozin, kekuatan NU pada akhirnya bertumpu pada kemampuan jam'iyyah mengorganisasi potensi jamaah. Karena itu, penguatan organisasi harus berjalan seiring dengan penguatan pesantren, kaderisasi, kemandirian ekonomi, tata kelola yang sehat, serta hubungan yang semakin kuat antara struktur organisasi dengan warga di tingkat akar rumput.
Orientasi tersebut menempatkan jamaah bukan sekadar sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek utama pembangunan kekuatan NU. Partisipasi jamaah menjadi sumber energi bagi kemandirian jam'iyyah, sementara jam'iyyah bertugas mengorganisasi potensi tersebut agar menjadi kekuatan bersama.
Pertemuan di Makassar akhirnya menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan kepemimpinan Gus Rozin dengan aspirasi pengurus NU di daerah.
Dari forum tersebut mengemuka harapan agar NU memasuki abad kedua sebagai organisasi yang tetap berakar pada jamaah, kuat dalam menjaga ukhuwah, mandiri dalam mengelola sumber dayanya, kokoh dalam menjaga pesantren, serta tetap kritis dan konstruktif dalam menjalankan perannya sebagai masyarakat sipil keagamaan.
Editor : Arham Hamid