Jelang Muktamar NU, Gus Rozin Gaungkan Penguatan Pesantren dan Kemandirian Jam’iyah di Makassar
Gus Rozin juga menegaskan pentingnya menjaga posisi NU sebagai masyarakat sipil keagamaan sekaligus sahabat pemerintah. Ia merujuk pada pandangan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang, menurut Gus Rozin, pernah menyatakan kegembiraannya ketika warga NU memberikan kritik kepada pemerintah, bahkan ketika Gus Dur sendiri menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Bagi Gus Rozin, pandangan tersebut menunjukkan bahwa kedekatan dengan pemerintah tidak boleh menghilangkan fungsi kontrol sosial NU. “NU harus selalu menjalankan fungsinya sebagai civil society dan sahabat pemerintah,” tegas Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah itu.
Dalam forum tersebut, Gus Rozin juga memberikan perhatian besar terhadap penguatan pesantren. Menurutnya, pesantren merupakan salah satu fondasi utama keberlangsungan NU. Ia menggambarkan hubungan keduanya melalui ungkapan, “NU adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil.”
Karena itu, membangun pesantren pada hakikatnya merupakan bagian dari membangun NU. Sebaliknya, melemahkan pesantren berarti melemahkan salah satu urat nadi organisasi.
Gus Rozin juga menyoroti persoalan yang kerap muncul di lingkungan pesantren, terutama pada periode penerimaan santri baru sekitar Maret, April, Mei hingga pertengahan Juni. Menurutnya, momentum tersebut perlu menjadi perhatian serius NU untuk memperkuat tata kelola, perlindungan santri, serta pendampingan terhadap pesantren. “Selain pesantren, kaderisasi juga menjadi agenda penting untuk memastikan keberlanjutan NU,” ujarnya.
Menurut Gus Rozin, penguatan pesantren harus berjalan beriringan dengan penguatan kaderisasi. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga tempat tumbuhnya ulama dan kader kepemimpinan NU.
Gus Rozin selanjutnya menekankan pentingnya mengembalikan orientasi pengembangan organisasi kepada kekuatan jamaah. Menurutnya, karakter NU berbeda dengan organisasi yang terlebih dahulu membangun struktur jam'iyyah kemudian menghimpun jamaah. NU justru tumbuh dari keberadaan jamaah yang kemudian membangun jam'iyyah. “Di NU jamaahnya dulu ada, lalu jam'iyyahnya terbangun,” kata Gus Rozin.
Karena itu, kekuatan organisasi harus tetap bertumpu pada potensi jamaah yang berada di akar rumput. Kemandirian NU, menurutnya, tidak cukup dibangun melalui penguatan struktur organisasi, tetapi harus ditopang oleh kemampuan jamaah untuk berpartisipasi, bergotong royong, dan membangun kekuatan ekonomi bersama.
Dalam konteks tersebut, penguatan PWNU dan PCNU menjadi penting. Gus Rozin menilai PWNU memiliki posisi strategis untuk mengorkestrasi PCNU karena pengurus wilayah lebih memahami persoalan konkret yang muncul di tingkat bawah. “PWNU harus bisa mengorkestrasi PCNU-PCNU di bawahnya karena paling memahami problem-problem yang muncul di bawah, bukan PBNU,” ujarnya.
Editor : Arham Hamid