Rais Syuriah PWNU Sulsel Beri Songkok Guru kepada Gus Rozin, Simbol Persaudaraan Ulama
MAKASSAR, iNewsCelebes.id - Silaturahmi antara tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Dalam kesempatan tersebut, Anregurutta KH Baharuddin HS., M.A., Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan, memberikan Songkok Guru kepada KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Pemberian Songkok Guru tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus persaudaraan antara ulama lintas daerah. Lebih dari sekadar bagian dari busana tradisional, Songkok Guru merepresentasikan identitas, kehormatan, dan tradisi keulamaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Bagi Gus Rozin, perjumpaan tersebut memiliki makna penting dalam konteks perjuangan NU memasuki abad kedua. Menurutnya, NU dibangun bukan hanya melalui struktur organisasi, tetapi juga melalui silaturahmi ulama, hubungan kultural, tradisi pesantren, serta pertautan pengalaman dan pengetahuan antardaerah.
Pertukaran simbol budaya dan tradisi dalam pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana NU memiliki kekayaan tradisi keulamaan yang beragam, tetapi dipersatukan oleh nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dan semangat khidmah.
Sebagai bentuk penghormatan dan balasan persaudaraan, Gus Rozin memberikan cendera mata berupa sarung batik khas Jawa Tengah serta kitab karya KH MA Sahal Mahfudh kepada Anregurutta KH Baharuddin HS., M.A.
Sarung batik khas Jawa Tengah membawa pesan tentang kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Jawa, sementara kitab karya KH MA Sahal Mahfudh menjadi simbol pentingnya warisan keilmuan pesantren sebagai fondasi pengabdian kepada masyarakat.
Pertukaran cendera mata tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar pemberian barang. Songkok Guru dari Sulawesi Selatan dan kitab Kiai Sahal dari Jawa Tengah mempertemukan dua kekuatan tradisi: penghormatan kepada ulama dan kekayaan budaya di satu sisi, serta tradisi keilmuan pesantren di sisi lain.
Gus Rozin yang dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan pesantren dan organisasi NU melihat tradisi keulamaan sebagai salah satu fondasi penting bagi masa depan jam'iyyah.
Pengalaman dan pemikiran KH MA Sahal Mahfudh, yang merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan intelektual Gus Rozin, menjadi bagian dari tradisi keilmuan yang terus dibawa dalam ikhtiar membangun NU agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Editor : Muhammad Nur