Rais Syuriah PWNU Sulsel Beri Songkok Guru kepada Gus Rozin, Simbol Persaudaraan Ulama
Dalam visi pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Rozin menawarkan gagasan tentang NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Visi tersebut berangkat dari keyakinan bahwa transformasi NU memasuki abad kedua tidak boleh berarti meninggalkan akar sejarah dan tradisi organisasi.
Sebaliknya, perubahan harus dilakukan dengan memperkuat kembali fondasi yang diwariskan para ulama dan muassis NU, sekaligus menerjemahkannya untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, dan kebudayaan yang terus berkembang.
Dalam kerangka tersebut, menjaga marwah ulama dan pesantren menjadi salah satu agenda penting. Pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga ruang reproduksi ilmu, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, serta tempat tumbuhnya kepemimpinan masyarakat.
Karena itu, perjumpaan ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar juga dapat dibaca sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat jaringan keulamaan dan pesantren Nusantara.
Bagi Gus Rozin, silaturahmi tidak berhenti pada pertemuan simbolik. Hubungan antarpengurus, ulama, pesantren, dan warga NU dari berbagai daerah perlu dikembangkan menjadi kerja sama yang konkret. Pertukaran pengalaman antarpesantren, penguatan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan ekonomi jamaah, hingga penguatan kebudayaan merupakan bagian dari potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan.
Dalam konteks tersebut, silaturahmi ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah memiliki makna yang lebih luas. Ia menjadi simbol bahwa NU abad kedua harus tetap berakar pada tradisi ulama, tetapi sekaligus mampu membangun jembatan antardaerah dan mengembangkan kolaborasi untuk menjawab persoalan masyarakat.
Songkok Guru yang dikenakan Gus Rozin menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi keulamaan Sulawesi Selatan. Kitab karya Kiai Sahal yang diberikan kepada Anregurutta Baharuddin menjadi simbol warisan intelektual pesantren Jawa Tengah.
Keduanya bertemu dalam satu semangat: merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, dan meneruskan khidmah ulama untuk membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat di abad kedua
Editor : Muhammad Nur